HANYA INGIN KAU TAHU….
.
Situbondo, 1986…
Aku baru menyadari kalau aku mengalami kecelakaan saat orang sekampung merubungiku dan mencoba membuatku siuman dengan segelas teh tawar panas.
Aku tersedak. Aku siuman. Aku baru menyadari bahwa aku menegalami kecelakaan diruas jalan Situbondo – Probolinggo. Nancy, aku kecelakaan. Sepeda motorku hancur. Bahkan mesinnya pun pecah.
Dengan niatan yang tulus penduduk kampung setempat membawaku ke rumah sakit umum Situbondo menggunakan mobil bak terbuka.
Kaki kiriku bengkak sangat besar. Sedemikian besarnya hingga celana jins yang kukenakan harus digunting untuk melepaskannya.
Hancur. Ya, hancur. Persis diatas tulang tempurung kaki kiriku hancur. Bahkan tulang paha itu tampak mencuat keluar dari dagingnya.
Aku kesakitan yang teramat sakit, hingga aku harus memaksa dengan memelas kepada dokter jaga yang menanganiku untuk membiusku. Aku tak sanggup menahannya.
Kuyakinkan kepadanya bahwa keluargaku pasti segera datang. Kuberikan nomor telepon mereka dan frekuensi radio amatir dimana biasanya stand by.
Surabaya, dua hari kemudian….
Aku dikirim ke Rumah Sakit William Booth Surabaya untuk bisa segera mendapatkan penanganan yang memadai sebelum luka di kakiku membusuk. Hanya dalam 2 x 24 jam sejak terjadinya kecelakaan, dokter di William Booth Surabaya segera melakukan operasi besar.
Beruntung kakakku yang berdomisili di Surabaya adalah pemegang Pin Emas donor darah PMI. Sehingga saat kakakku meminta 12 kantong darah golongan B, mereka segera membantu dengan tergopoh-gopoh.
Aku dioperasi oleh seorang dokter lulusan amerika yang sangat berpengalaman. Ah, maaf dokter. Aku lupa namamu. Tanpa keahlianmu yang luar biasa, mungkin aku harus buntung dengan sebelah kaki. Meskipun untuk membiayai operasi ini Kakakku harus berbohong kepada ibu. Ibupun harus menjual emas simpanan kesayangannya. Biaya operasi itu setara dengan harga 10 buah sepeda motor seperti sepeda motor yang kuhancurkan karena kecelakaan….
Singaraja, beberapa hari kemudian….
Dua minggu saja aku di William Booth. Segera setelah itu aku harus kembali ke Bali. Namun kini aku berkaki empat. Dua kaki lagi adalah tongkat kruk yang harus kukenakan selama masa penyembuhan. Aku hanya bisa bilang ke kakakku, tolong kabari Nancy di Jogja kalau aku mengalami kecelakaan. Akupun mencoba bersurat kepadanya tentang kecelakaan yang kualami. Setelah itu, aku tak tau harus apa lagi. Aku shock. Aku putus asa.
Beberapa hari saja aku di Surabaya, di rumah kakakku yang masih seorang mahasiswa kedokteran hewan Universitas Airlangga. Mengumpulkan sisa duit dan merencanakan apa yang harus kakak-kakakku perbuat karena kecerobohanku ini. Kembali ke rumah di kampung adalah tidak mungkin. Ibu mengidap sakit jantung. Ibu pasti akan sangat kaget bila melihatku pulang kerumah dengan meggunakan kruk.
Akhirnya aku harus ke Singaraja. Air Sani menjadi tempat pelarianku. Rumah tempat aku tinggal persis menghadap ke pantai Air Sani. Di sini di rumah kakakku yang lulusan sebuah akademi di Magelang. O, ya. Pantainya sangat Indah. Menyaksikan matahari tenggelam menjadi kebiasaanku sehari-hari. Bersama pak Putu pemilik cafe setiap hari kami selalu memandang matahari tenggelam di ufuk barat. Kukepulkan asap rokok Bentoel Filter kesukaanku, dan kuhirup secangkir kopi panas buatan pak Putu. Indahnya pantai Air Sani perlahan mampu menenangkanku. Tapi toh lama-lama aku bosan juga setiap hari seperti ini. Aku tak mampu mengusir bayangmu, Nancy…
Ya, dua bulan aku di Air Sani – Singaraja. Aku bosan. Aku bosan hanya tergolek lemah di depan televisi yang buram gambarnya. Selama dua bulan itu sebenarnya nyaris tak pernah mandi. Hanya sekedar kubasuh saja badanku ini. Karena aku menunggu luka bekas operasi ini sembuh dengan sempurna. Pas dua bulan itulah aku benar-benar bisa mandi besar. Seluruh badanku kugosok bersih-bersih. Dakinya beruntuhan. Kukeramas rambutku yang menjadi panjang dan gimbal.
Dua jam aku di kamar mandi.
Sore itu sepeda motor yang mencelakakanku datang. Dikirim dengan paket langsung dari bengkel di Situbondo. Aku ingin sekali membakarnya. Aku benci sekali. Aku suruh jual saja sepeda motor sialan itu. Sepeda motor tak tau diri yang telah kurawat semenjak baru. Sepeda motor yang selama masa SMA selalu menemani kita pacaran. Tapi kini aku benci sekali. Aku tinggalkan Singaraja menuju Denpasar.
Denpasar, dua bulan kemudian….
Mestinya aku kuliah seperti biasa. Tapi sayang sekali aku tertinggal ujian semester. Tentu di semester ke dua ini sia-sia saja. Belum lagi kampus Udayana jauhnya minta ampun. Di Bukit Jimbaran. Aku memang sial sepanjang tahun ini. Akulah generasi pertama penghuni kampus Jimbaran yang gersang. Kampus yang kering kerontang. Bahkan untuk pipispun nggak ada air untuk ceboknya. WC pun pesingnya nggak beda dengan WC terminal Ubung.
Aku kuliah hanya main-main saja. Sekedar mengiyakan ajakan teman kuliahku saja. Pikiranku sudah nggak fokus lagi. Aku tau mereka mencoba membesarkan hatiku saja. Tapi sesungguhnya mereka memang baik. Putut, Dharma, Richard, adalah teman baikku sepanjang tahun itu. Mereka semua rela menjemput dan mengantarku hanya untuk sekedar kuliah yang aku sudah tak minat lagi. Saat itu meski luka di kaki sudah sembuh, namun tulang paha belum menyambung dengan sempurna.
Ini sudah menginjak bulan ke tiga. Entah kenapa Nancy tak mengirimiku surat. Tak bisakah sedikit kabar darimu, Nancy ? Walau hanya lewat selembar kartu pos, mungkin ?
Aku masih tak tahu kabarmu, Nancy…
Harapanku sia-sia.
Semakin sia-sia saat tiba-tiba siang hari kakakku datang dari Singaraja mengabarkan kalau ibuku meninggal dunia pagi ini. Beliau terpeleset di kamar mandi. Kepalanya membentur lantai. Mungkin saat itu ibu sedang kumat darah tingginya. Sehingga perbedaan suhu badan dan kamar mandi yang dingin mengagetkannya. Entahlah, aku kurang paham. Tapi sudah takdir dari Nya ibu meninggal di usia yang relatif masih muda.
Aku lemas. Aku pulang.
Di acara pemakaman inilah aku baru bisa jumpa dirimu, Nancy…
Kita berdua membisu tak tau apa yang hendak kita katakan. Aku merasa invalid bertemu denganmu, dan nampaknya Nancy juga enggak enak hati bertemu denganku. Entah mengapa rasanya secara tiba-tiba terdapat jurang yang menganga diantara kita. Nancy lebih memilih kembali ke Jogja sore itu juga, dibanding sekedar menemaniku setelah masa yang sulit selama beberapa bulan ini. Kita pun berpisah, dan seminggu kemudian aku kembali ke Denpasar.
Kuliah di tahun kedua sungguh nggak enak. Aku kehilangan teman-temanku yang dulu. Mereka sudah ambil semester tiga, sedang aku harus mengulang semester satu. Bertemu adik-adik angkatan dibawahku. Akibatnya aku jadi semakin nggak bergairah untuk kuliah. Lebih parah lagi saat kuterima surat darimu, Nancy. Surat yang isinya menyatakan Nancy hendak memutuskan hubungan kita. Aku nggak habis pikir, kenapa begitu ? Aku langsung telepon interlokal ke kost mu di Jogja, bahwa aku akan ke Jogja ingin menemuimu untuk membicarakan masalah ini. Tapi Nancy menolak.
Namun aku tetap nekat, dan pagi benar dihari berikutnya aku sudah sampai di jogja dengan menumpang bus malam. Turun diperempatan yang nggak jauh dari perempatan SGM. Nancy pun terperanjat saat melihatku di pagi buta sudah berada di depan pintu kamar.
“Ngapain kesini mas ? Kan suratku sudah jelas isinya ? Aku nggak ingin melanjutkan hubungan ini lagi…”
Masih terngiang kata-katamu itu, Nancy. Bahkan hingga saat ini, tak kan pernah kulupa. Sakit sekali rasanya. Namun aku tak bisa apa-apa. Aku hanya mencoba untuk tetap tegar. Setelah kecelakaan yang nyaris membuatku kehilangan kaki, kemudian kehilangan ibu, dan kini aku harus rela kehilangan Nancy, kekasihku semenjak aku berusia 16 tahun, kelas satu SMA….
Seharian aku di kost mu. Mencoba untuk membujukmu untuk membatalkan niatmu. Tapi niat Nancy napaknya telah bulat. Akupun benar -benar tak mampu lagi meyakinkannya,
“Kita bisa seperti dulu lagi, kan Nan ? Aku akan sembuh, kok Nan…. Mungkin beberapa bulan lagi aku sudah lepas kruk”
“Nggak lah mas. Tolong mas jangan begitu. Aku sudah tetapkan hati. Nanti aku jadi berubah pikiran lagi”
“Apakah karena kita berjauhan Nan ? Kalau itu masalahnya, aku akan kuliah di Jogja saja. Agar kita bisa jalan-jalan lagi seperti dulu….”
“Nggak mas,… Jangan… Mas tetap di Bali saja….”
“Aku sayang sama Nancy. Aku serius. Aku akan tinggalkan Bali buat Nancy….”
“Jangan mas…”
“Nggak. Aku akan balik ke Jogja saja. Aku akan membuktikan kepadamu kalau aku serius. Aku akan balik lagi ke Jogja saja”
“Jangan mas…”
Sore itupun kita berpisah. Aku kembali ke Denpasar dengan membawa luka dihati. Benar kata orang, patah hati sangat sakit rasanya. Seperti disayat sembilu. Aku masih tak mengerti, kenapa ini semua terjadi. Ada sedikit rasa curiga dipikiranku, mungkinkah Nancy memutuskan untuk meninggalkanku, karena luka di kakiku ? Mungkinkah dia sangat kawatir aku tak bisa berjalan seperti dulu lagi, dan malu atau meragukanku untuk masa depannya kelak ?
Entahlah, hanya Nancy yang tahu…
Sekembalinya dari Jogja aku makin nggak karuan. Makin nggak fokus dengan kuliahku. Kadang masuk, kadang nggak. Bahkan sering nggak kuliah daripada kuliah. Dari rumah kost di Perum Monang-Maning aku berangkat, tapi hanya sampai di Kuta. Seharian aku hanya mondar-mandir nggak tentu arah. Masih menggunakan kruk.
Begitulah hari-hariku. Mondar-mandir di sepanjang Legian Kuta. Ngobrol dengan bule-bule gembel dari Aussie, minum bir, dan sore baru pulang. Nyaris sepanjang tahun kedua, atau di semester tiga aku kuliah di Bali, aku seperti ini. Di akhir semester ketiga, ( menurut hitungan pertama masuk kuliah ) aku ngobrol sedikit sama Putut. Bahwa dia hendak keluar dari Udayana dan mau pindah sekolah Pilot saja di Curug. Akupun memutuskan untuk kuliah di Jogja saja. Richard kudengar juga ingin balik ke Jakarta. Sedangkan Dharma Putra yang memang anak Denpasar memutuskan tetap melanjutkan kuliah.
Praktis setelah ujian semester ini selesai, aku langsung kemasin baju dan pulang ke Jogja. Tekadku sudah bulat, aku tinggalkan Universitas Udayana….
Jogjakarta, 1987…
Aku kembali ke Jogja.
Aku kembali ke Jogja untuk kuliah di Jogja dan niatan untuk mencoba merajut lagi tali kasih yang terputus. Mencoba merekatkan lagi remah-remah yang terpecah. Aku coba untuk menghampiri Nancy lagi di tempat kost nya. Namun yang kudapati sungguh diluar dugaanku. Nancy menjadi sangat keberatan bila aku datang ke kost nya. Menurut pengakuannya, sekarang ada seorang senior di kampusnya yang menjadi pacarnya.
Oalaaah…. Woke deh kalau begitu. Aku tak akan mengungkit lagi masalah kita. Mungkin sementara aku harus berdiam diri dulu, atau mungkin juga aku akan belajar melupakanmu, Nancy. Maka akupun menenggelamkan diri dengan segala macam tentir, demi mengingat lagi pelajaran SMA yang mungkin aku lupa. Bersyukur aku dikaruniai otak yang lumayan dari Tuhan, maka Sipenmaru pun berhasil kutembus.
Aku mengukuhkan diriku menjadi mahasiswa baru UGM. Berbagai kegiatan, aktifitas kuikuti sehingga aku lupa akan dirimu. Sampai dengan aku mendengar kabar, dari seorang kawan, yang mengantarkan undangan perkawinanmu dengan seseorang. Undangan yang baru sampai ditanganku satu jam sebelum acara dimulai. Aku tak tau maksud dari semua ini. Bagaimana mungkin aku bisa menghadiri undanganmu sedangkan terpisah jarak antar kota ? Atau, mungkin ini caramu untuk mengoyak hatiku lebih dalam lagi ?
Dengan menikahnya dirimu dengan lelaki lain, berarti menutup kemungkinan untuk membayar dosa dan tanggung jawabku padamu. Dosa yang tak tertanggungkan, hingga saat ini. Kawan tersebut hanya mengatakan, bahwa lelaki tersebut adalah pengusaha. Semacam berdagang buku-buku tentang Islam, juga kerajinan tangan yang terbuat dari kuningan.
Akupun melupakanmu….
( mungkin lagu di bawah ini mampu mewakili perasaanku padamu selama 22 tahun…. )

Klarifikasi yaaah…
Slama tiga bln itu “babarblas” engga pernah terima kabar dari pacarnya yang di Bali itu.
Kl sj Nancy tau kekasih yang dicintainya itu tergolek di RS. pastilah nancy nyungsul kesana. ( ssst….!! konon kabarnya “suster” yang merawat di RS itu sangatlah “aduhai”, mangkanya Nancy engga blh kesana, dikwatirkan akn membuyarkan swasana…Hiks!..)
Nancy mutusin hub bkn krn pacarnya nyaris kehilangan kaki ( ngawur bangets ! Kayak sinetron aja.. )
Buat Nancy buntung kaki engga masalah, asal engga buntung “itu” nya !
[ hwehehehe.......! ]
Hub trpaksa diakhiri dkrnakan sifat Nancy yang “possessive”, ( engga tahan mnyaksikan kekasihnya yang tampan itu selalu dikerubutin peuyeumpuwan2 cantik….! )
Mbel:
Oya ???
Tanpa bermaksud saling menyalahkan, komunikasi saat itu memang belum secanggih sekarang.
Di Singaraja, khususnya di Air Sani saat itu, teleponnya masih di engkol. Untuk bisa interlokal sungguh perjuangan luar biasa. Mungkin telepon otomat cuma ada di Singaraja nya.
Perihal suster itu memang benar adanya. Tapi kan ya ndak mungkin saya jatuh cinta atau dia yang jatuh cinta sama saya. Emang sinetron apah ???
Hmmmm…. Soal Nancy posesif, mungkin benar adanya. Bahkan seringkali keinginanmu sedemikian kuat tak tergoyahkan. Tapi kalau soal peuyeumpuan laen,… Nngg…. Nnggg…… Gimana ya, njawabnya….??? Bingung aku….
Pokoke, Nancy lah satu-satunya saat itu. Kalau nggak, nggak mungkin lah aku mengulang lagi jauh-jauh sampai mengejarmu ke Magelang segala ke tempat bu de dalam kondisi invalid seperti itu ???
“Kawan tersebut hanya mengatakan, bahwa lelaki tersebut adalah pengusaha. Semacam berdagang buku-buku tentang Islam, juga kerajinan tangan yang terbuat dari kuningan”
Syech puji ya boss ?
oohh…hmmmm…. *bingung mo komen apa*
pacaran sama tante nancy lama juga ya oom…ga nyangka, bisa sedalam itu cintanya.
tetapi, banyak cinta yang mendalam nih, si oom…
flamboyan
)
aselinya om mbel nih domisili mana sih, surabaya ?? jd waktu ibu sedo, ga sempet menemani saat2 terakhir ya..so sorry.
ehm, kakak om mbel yg kul di FKH, buka praktek di jogja tak ?? kl iya, aku mo ndaptarin ‘anak2ku’.
trus apakah ini berarti cinta kpd tante nancy msh bergelora ??
*dan pengusaha tersebut adalah…eng ing eng….*
*banyak pertanyaan yg nggak sistematis ya oom*
bahasanya udah bermetamorfosa mbel??
walah… ini toh kisah nancy om mbel…
tragis bener dah ya…
turut berduka cita om…
Heee? Ini beneran oom??
Nanti klo dibaca istri yg sekarang gmana?
Bos,
Emang didosain apa aja sih?
*Kabru*
Kayaknya Danang (#2) bener deh.
Wah…bisa buat scrip sinetron ne.
Setuju ma koment #2 and #7
om mbell mengenang masa lalu…..???
sama dengan # ( 7 ) bos dewo
( bidadarinya bakalan berkurang nih….…. )
hmm…
perlu diklarifikasih neh dosanya di post yang berikutnya…. saya menunggu nehg…..
Bagus tulisan ini, Mas Mbel.
Biasanya, gara-gara waktu saya ini termasuk kategori speed reader, yang membaca hanya paling lama tiga detik, Mas Mbel. Namun blog Mas Mbel, karena bahasanya yahud, jadi saya luangkan waktu lebih. Untuk tulisan ini, khusus, saya lebih meluangkan waktu lagi.
Berulang kali membacanya secara hati-hati.
Kalau Mbelgedez.Com punya award, ini salah satu (calon) posting (yang mungkin berseri) yang saya nominasikan sebagai salah satu tulisan yang terbaik.
Alasannya: Kalau fiksi, ada yang janggal. Maka itu, secara sok tahu saya pikir ini lebih mirip semi-autobiografi. Kalau menulis semi autobiografi dalam ranah publik, biasanya butuh perjuangan lebih besar daripada biasanya. Sebab banyak emosi yang tertuang lewat tulisan.
Dan lebih banyak lagi emosi yang harus ditelan ketika melihat komentar publik atas tulisan.
Mbel:
Trima kasih atas pujiannya sekaligus kritiknya.
Saya biasanya menulis apa yang telah saya alami.
Dengan segenap resiko yang harus saya tanggung, dan kali ini, mungkin Nancy….
saingan sama president reagen ya mas mbel?
nancy reagen?
kayaknya ini Nancy yang dibahas di postingan dulu itu ya om….
Lagi bernostalgila yah oom?
Wah kisah cintanya syeru juga. Sunguh indah kisah cinta yang pernah oom Mbel rasa dan alami. Indah dan menarik hati takkan terlupa sampai akhir masa. Walaupun seribu tahun tlah berlalu kisah cinta Oom Mbel dan NAncy takkan beku… (wah mudah2an exs pacar ngga ngamuk deh!!!)
Hmmmmmm ada apa kok tiba2 bernostalgila? back to the puber time? ataw puber ke dua?
kenangan lama ya bro?
Wah :shock: kirain apaan kok dipassword, ternyata oh ternyata…
bener2 tidak terduga..
Terlepas dari nyatanya atw fiktifnya cerita ini, sy salut ma gaya penulisan om mbel,
menyentuh…
satu lg klebihan om mbel dlm menulis, yaitu kedetilan,
shngga memudahkan pembaca utk ikut terhanyut dalam emosi pada kisah ini,,
Klo soal cinta, om mbel mgkin lbh brntung dr saya krn prnah mrskan pacaran di masa SMA, lah sy mpe skrg blm prnah pcran T_T
Tp sy jg manusia yg prnah jth cinta, shngga sy tkt Klo gdis pujaan saya keburu dnkhi org
dododl. malah aku ikut cerhanyut critanya.
tapi aku jadi mengira-ngira, who nancy is.
*minum nafasin*
Ugh, selama 22 tahun… :shock:
Nancy ingat-ingat lupa, mana yang benar ya ?
Seingat Nancy, pas di Magelang dirumah bu de, Nancy lagi bobok tiba2 trbangun krn trasa ada kecupan di kening. begitu melek, shock ngliat sosok yang kurus pake kruk, tersenyum.
Mungkin itu maksudnya 3 bln tdk brkabar.
Surprise ?
Surprise yang aneh….
Mbel:
Walaah….
Aku jugak udah lupa, Nan.
It’s long-long time ago…
Esensinya kan bukan ituh.
Nancy belom njawab pertanyaanku ;
Pertanyaan ndak penting kali’ yah….
Emang motor boz Mbel mereknya apaan seh?
Jangan2 h***a neh, makanya boz Mbel sekarang agak sensi sama merek ini..
aku sudah tau!!! tahu apa?? tahu wajah sampean… jiakakka
wew, kirain apaan kok tdnya d paswot
sad to read that…
kisah yg tak berakhir dg baik
22 thn… luamma nya, pasti kebayang² mulu ya…
asri ga ingin merasakan patah hati serupa ah… -__________-;
bos…makasih udah berkenalan sama saia kmrn di pb’08 (yang dikenalin ama aRuL)….
kang, ini crita nyata po fiktif tho??
eh Bozz Mbel si nancy nama aslinya neneng ya wakakakaka…
eh Bozzz gw juga dolo kuliah di njogja jadi sangat faham apa itu “Dosa yang tak tertanggungkan…” dan menurut gw sih dah umumlah itu… (tp gw gak lhoo bozzzz…)
klo mo ditebus tuh dosa bilang ane aja bozzz tar ane yang buatin galian setengah badannya, klo yang nyambit sih kayaknya banyak nyang mo daptar tuhhhh hihihi…
dari tahun kejadian
mang pantas disebut mbah mbel
*kabuurrrr*
Ini kisah nyata tho, Mbah???
bang mbel…
hehee
nggak nyangka abang bisa nulis seindah ini lho. hehehe
nggak seperti biasanya…..
wah ternyata kejadian masa lalu begitu membekas bang yakz.
btw pertanyaannya nancy skrg dimana?
aduh deeek… basahamu cak NOVEL BANGET!
iku asli kisah nyata apa kutipan novel sih cak?
[ato pengalihan pembaca dari kisah satu atap seribu perusahaan?]
**dilempar duit sekarung**
[ato warming up mau jadi penulis buku?]
**dilempat mesin offset**
eh cak, tante siska mbaca ini ndak? hehehe…
sekali lagi ah. kapan bisa nyampah dengan leluasa tanpa sela di blog ini
valid! cak mbel sudah tidur!
aku juga pamit tidur aaah…..
Ancrit 86, aku jek TK !
Biarlah semua yang menjawab jamaahnya mas Mbel.
Aku masih nangis sesenggukan ni….
Mbel:
Arrrgghh….. :shock:
Aku sangat ingin jawabanmu, Nan….
Sungguh, ini misteri bagiku hingga saat ini….
mudahn-mudahan skarang smua menjadi jelas…
wwoooohhhh ini perseteruan yang bagus.. seharus nya mbak nancy [yang enggak pake link ituh] mesti buat cerita dari sisi mbak nancy, jadi jamaah kan enggak salah paham..
Mbel:
nancy ndak protes kok….
cocok dibaca malam hari. kalau siang hari jd tertular penyakit rapuhnya. he he. salam kenal. sy jg generasi awal padepokan bukit jimbaran.