CINTA YANG TAK PERNAH USAI….

2008 November 26
by mbelGedez™

( Hanya Ingin Kau Tahu, bagian 2. Serie pertama sudah dikonci )

CHAPTER  I

Jakarta, 2001…

Minggu siang itu ada SMS menyelinap di ponselku. Entah kapan tanggal dan bulannya aku lupa. Sangat-sangat lupa. Hanya satu hal yang membuatku ingat kapan kira-kira kejadiannya, aku baru beberapa hari sebelumnya menerima kendaraan baru inventaris dari kantor. Jadi mungkin sekitar bulan April atau Mei.

Ah, pentingkah itu Nan ? Entahlah. SMS yang kuterima dari seorang sobat lama kita yang bekerja di PLN  sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Nancy pasti sangat paham siapa yang kumaksud. Isinya singkat.

Mbel, bisa nggak ke alamat bla-bla-bla, Bekasi. Ini rumahnya Anu. Ada aku dan Nancy. Bls ya.

Heh…  Ngapain pada ya ? Ini bukan hari umumnya orang liburan. Aku heran sekali. Namun kujawab juga SMS itu dengan  singkat,

Kuusahakan datang, tapi aku nggak janji. Kalo aku bisa datang nanti kukabari. Lagian kok ada Nancy segala ?

Teman kita itu masih menjawab dengan penuh misteri,

Makanya datang ya. Ceritanya panjang. Ok ?

Aku nggak tahan SMS an yang bikin penasaran gitu, Nan. Maka kutelepon dia dengan setting Privat Number di ponselku

“Hei,… Ada apa sih ? Kok kesannya misterius banget ?”

“Sini yo Mbel. Kami semua kangen sama kamu. Pengen ketemu aja. Kan lama banget nggak ketemu….”

“Nancy kok bisa sama kamu disitu ? Sama suaminya juga, apa ”

“Nggak. Justru itu nanti kita crita-crita lah pokoknya. Pasti kamu nggak bakalan nyangka deh.”

“Jangan-jangan kalian berdua edannya kumat. Kompakan “menceraikan suami masing-masing’. Ha…ha….ha…”

“Wis, pokoke dateng sinio to. Kami lagi pada stress semua. kalau ketemu kamu pasti pada ngakak deh.”

“Ntar dulu, ntar dulu. Jawab dulu pertanyaanku. Apa bener dugaanku, kalau Nancy cerai ?”

( Teman kita itu berbicara sambi berbisik di ponselnya )

“Ya lebih kurangnya begitulah, Mbel. Tapi ini cerita jelek yang disimpen dalam-dalam. Jadi nanti kalau kamu ketemu Nancy, nggak usah ngobrolin soal ini lah. Nggak enak. Pokoke tau sama tau lah. Ngobrol yang asik-asik saja. Oke ?”

“Jadi ini pada ke jakarta merayakan perceraian, gitu ?”

“Nggak…. Nggak….   Wong cerainya udah lama kok…  Udah Empat tahun lalu….”

“Hah ?!!  4 tahun lalu ???    Astopilluloo…..    Gimana bisa sih ???”

“Udahlah. Mangkanya datang sini ya, kita ngobrol-ngobrol… ” ( teman kita itu masih berbicara berbisik ).

“Oke-oke. Nanti kuusahakan datang. Sorean lah. Tapi satu hal yang kamu harus ingat. Nggak usah bilang nancy kalau aku datang. Biar aja nanti dia tahu dengan sendirinya.”

“Bereeeess….”

Pikirankupun langsung berkecamuk, Nan…

Aku masih nggak habis pikir. Di tahun 87 lalu Nancy memberi kabar secara tiba-tiba kalau menikah. Setelah sekian lama kita saling nggak berkabar, entah bagaimana keadaan masing-masing, entah nancy dimana, aku dimana, tak ada yang tahu. Kini kita hendak bertemu dalam keadaan Nancy  telah bercerai, sedangkan disatu sisi aku sedang berusaha merengkuh kebahagiaan berumah tangga….

Ugh,… Aku nggak bisa tenang sejak mendengar sobat kita itu mengatakan Nancy sudah bercerai. Empat tahun yang lalu pula. Lantas, selama empat tahun itu Nancy ngapain aja ya ?

Berapa anakmu sekarang ? Apakah ikut denganmu atau mantan suamimu ?

Beribu pertanyaan berseliweran di sel-sel otakku. Empat tahun yang lalu bercerai, berarti sekitar tahun 1997. Lantas, apa yang telah terjadi selama kurun waktu 10 tahun perkawinanmu, Nan ?  Sepuluh tahun bukan waktu yang sekejap. Namun perkawinanmu hancur.

Aku putuskan untuk bertemu

Lumayan jauh juga rumah si Anu. Bekasi tapi dibagian Utara. Sangat utara. Untung saja rem mobil bututku cukup pakem. Kalau tidak pakem, bisa-bisa kecemplung laut. Ah, becanda Nan.  Namun demi ingin bertemu denganmu, dengan sobat kita, dan si Anu, kuputuskan untuk datang.

Ah, benarkah itu alasanku ?

Mungkinkah karena sebenernya aku juga kangen padamu ?

Atau sebab-sebab lain ?

Sumpah, aku nggak ngerti secara pasti apakah itu semua alasan yang tepat untuk menemuimu, menemui kalian semua. Karena entah pula dapat bisikan dari mana, aku datang sore itu dengan mengajak Aliffia Zahara. Anak pertamaku yang baru beranjak usia 3 tahun.

Sepanjang perjalanan aku sibuk teleponan dengan sobat kita itu. Dia bilang mesti curi-curi tempat untuk treima telponku karena nggak enak sama Nancy.

“Itu ruwet kok Mbel, urusannya. Pokoke waktu itu untuk bisa bercerai  butuh waktu lama.”

“Ooo,…   Lha terus anak-anak ikut siapa ?”

“Nancy kan nggak punya anak Mbel. Perkawinan mereka nggak menghasilkan anak.”

“Jadi mereka bercerai karena mereka nggak punya anak, gitu ?”

“Nggak, nggak juga. Kayaknya bukan masalah itu kok. Ada masalah lain yang lebih krusial. Wis, to. Cepetan sampe sini, biar ngobrolnya manteb….”

Ya ampuuuunn….   Sobat kita yang satu itu memang paling jago memberikan alasan yang semakin membuatku penasaran. Tepatnya, membuatku ingin bertemu denganmu.

Nancy….

Kamu masih disitu kan ?

Nancy masih didepan laptop membaca suratku ini, kan ?

Tolong baca sampai selesai karena seharusnya surat  ini Nancy terima sejak 2001 lalu….

Pukul lima sore sampailah aku di rumah si Anu. Seperti yang telah kusepakati dengan sobat kita itu, kami ketemuan di luar rumah, di pengkolan. Ngobrol sambil nyender di kap mesin sedan bututku yang masih panas. Ah, nggak ding. Sebenernya aku baru saja dapat fasilitas sedan baru dari kantor. Tapi aku sengaja membawa yang butut ini.

Sementara Aliffia kubiarkan berjalan kesana kemari dengan riang. Berceloteh entah apa yang kita manusia dewasa nggak paham.

Banyak sekali yang sobat kita ceritakan tentangmu, Nan.  Terutama kisah perkawinanmu yang juga menurutnya terjadi begitu saja. Meski aku nggak yakin seperti itu prosesnya. Lantas tentang mantan suamimu yang, menurut ceritanya, nggak lazim seperti pada umumnya orang bertingkah laku. Apa betul begitu ?

Setengah jam kemudian Nancy muncul. Ada semburat kaget saat tahu aku ada diluar sedang ngobrol dengan sobat kita itu.

“Mas, apa kabar ?   Ini anaknya mas ? Cantik sekali. Hidungnya kayak bapaknya. Tapi kalau kulitnya pasti kulit ibunya ini.”

Ada suatu ekspresi aneh yang nampak diwajahmu. Aku kesulitan untuk menjelaskannya seperti apa. Tapi nampaknya semacam rasa canggung bercampur cemburu mungkin. Maaf bila aku salah menilai. Kaupun berbasa-basi menyapa Aliffia,

“Namanya siapa ?”

Aliffia pun nyerocos menjawab dengan lancar dan jelas tanpa kesulitan mengeja huruf atau kata dengan “R”. Memang anak pertamaku suatu keajaiban, sudah pinter ngomong sejak usia 2 tahun.

“Sebenernya ada satu lagi di rumah. Tapi nggak mungkin kubawa karena masih sangat kecil.”

“Hah…?!!    Jadi Aliffia ini ada adiknya ?”

Nampaknya Nancy makin kecewa. Mimik mukanya seolah mengatakan, “Seharusnya aku juga memilliki. ” Maaf, sekali lagi maaf. Mungkin aku yang salah menilaimu.

Kitapun berbincang-bincang dengan sedikit-sedikit mengungkit masa lalu. Namun aku tetap menjaga agar tak menyinggung ataupun menanyakan tentang hancurnya perkawinanmu, seperti yang sobat kita pesankan.

Sayang sekali, kita tak bisa lama bertemu. Hari mulai gelap, dan kitapun bertukar nomer ponsel. Sembari berjanji untuk saling kontak. Ah, andai saja negri kita punya teknologi ini sejak 14 tahun lalu, mungkin kita bisa selalu saling berkabar, ya Nan….?

Kulalui tol Bekasi barat menuju kawasan Halim, dimana dulu aku pernah tinggal. Pikiranku masih menerawang. Aku sedih mendengar kabar hidupmu yang seperti itu. Tak seharusnya Nancy mendapat perlakuan seperti yang Nancy ceritakan sekilas, ataupun yang sobat kita itu katakan. Tak seharusnya Nancy mengalami hal-hal buruk seperti itu. Nancy terlalu baik untuk mengalami hal-hal seperti itu. Sungguh.

Tapi, disisi lain aku sangat senang. Aku sangat senang hari itu bisa bertemu denganmu, setelah sekian lama tak bertemu, dan aku membawa anakku untuk kupamerkan kepadamu.  Seolah aku mengatakan, “Tanpamu aku juga bisa memiliki hidupku“. Rasa-rasanya, aku telah berhasil melampiaskan dendam kesumatku karena Nancy telah menyakiti hatiku. Lunas sudah amarah yang kupendam selama 14 tahun. Sebagai seorang lelaki dengan rasi scorpio, aku bangga telah melakukannya.

Masih melaju di tol Bekasi barat. Kubuka jendela samping mobil bututku, dan dengan melongokkan mukaku keluar jendela, kuteriakkan keras-keras dengan sekuat tenaga,

“Aku puas telah menyakitimuuuuuu….!!!!”

“Aku puuuuaaaaaaaasssss……!!!”

( bersambung…. )

25 Responses leave one →
  1. 2008 November 26
    nancyNo Gravatar permalink

    kisah kita spt sinetron ya…
    waktu itu aku jg merasa ada sorot dendam di mata mas mbel
    ada prasaan sedih tp jg lega..
    akhirnya ‘impas’! satu satu, tdk ada yg menang ato kalah..
    (pertandingan kalee….!!!??? Hehehe…..)


    Mbel:
    Sebenernya aku nggak bermaksud begitu, Nan…

    Aku mencoba legowo aja.

    Nancy bukan jodohku…. :cry:

    Sebetulnya kemarin udah hampir sembuh dari sesak napas karena tulisannya mas Mbel pertama, karena keslimur sm post kopdar.
    Kirain udah cukup itu….

    Mbel;
    Weh…
    Lha ini Chapter II belom sempat di publish.
    Terus jilid 3 nya juga belom, tuh…

  2. 2008 November 26

    just drop by :)

  3. 2008 November 26

    lain kisah lain strateginya. satu atap sejuta perusahaan diprotek dulu, butuh password untuk mebaca. kalo yang ini, dibiarkan dibaca dulu baru diprotek.

    tanpa nancy toh cak mbel punya istri dan anak juga :mrgreen:

    [membayangkan kapan hari ada yang nangis ngajak balikan]

  4. 2008 November 26

    Tapi, disisi lain aku sangat senang. Aku sangat senang hari itu bisa bertemu denganmu, setelah sekian lama tak bertemu, dan aku membawa anakku untuk kupamerkan kepadamu. Seolah aku mengatakan, “Tanpamu aku juga bisa memiliki hidupku“ [wajar, naluri lelaki...]

    Maaf nih, br isi comment, padahal saya dah sering baca tulisan blog mbah….
    tapi cuma sekedar baca aja…

    Penasaran sama passwordnya, ternyata passwordnya mudah sekali ditebak…

    Tapi mana SCnya mbah, katanya kalo tanpa SC biasanya hoax…
    /haha

  5. 2008 November 26

    hiks… hiks…

    ga taw mo comment apaan…

    ada opsi kaya yang punya resto wong solo mbah???

  6. 2008 November 26

    wekssss… hati – hati nehhhhh habis cerita lama tar buat cerita baru berdua gimana tha ? hehehehehe…

  7. 2008 November 26

    kasihan si Aliffia Zahara, jauh – jauh ke Bekasi…..

    mode *nggak nyambung*

  8. 2008 November 26

    Jangan sampe om mbel ada fikiran dengan membawa aliffia :

    *nan… nanti anak ini kita bedua ya yg ngasuh :mrgreen: *

    piss *kaboorrr*

  9. 2008 November 26

    Ini bales dendam ceritanya, oom… :mrgreen:

  10. 2008 November 26
    j4pNo Gravatar permalink

    Ternyata boz Mbel butuh body guard bernama Aliffia buat ketemuan sm Nancy.
    :D
    Puas?? Puas???…. :P

  11. 2008 November 26

    wew, gt ya rasanya klo udh ktmu org yg pnh sgt bkin kita sakit hati

    *setia menanti jilid 3*

  12. 2008 November 26

    poligami aja mbah

    *kabuuuuuuuuuuuuuuur*

  13. 2008 November 26

    jadi penasarn mengikuti ceritanya si nancy..
    wah sampe sinancy ikut berkomentar :D
    btw….. sampe segitu yah namanya cinta pertama eh cinta sejati :D

  14. 2008 November 26

    apakah masih ada dendam pada om Mbel sekarang?
    mudah-mudahan sudah gak ada lagi….

  15. 2008 November 27

    jd setelah ‘puas’ ganti menyakiti, apa yg mas mbel dapet ??
    kl ditelusur lg lebih jauh ke dalam hati, mengapa musti ‘balas dendam’ ?

    ah ya, tp di komen pertama, mas mbel udah menjawab.

    aku lbh penasaran nunggu apa g telah terjadi skrg2 ini.

  16. 2008 November 27

    Aku puuuuaaaaaaaasssss……!!!

    Crot! Crot! Crot!

    Aaaaah!

    Lho!?

    Aliffia kecil pasti bingung dengan tingkah daddynya.

  17. 2008 November 27

    absen sik mbel, biar ga bolong sebagai jamaah, soale mau workshop 2 hari nih, mau ngilang dulu, klau ada sambungan wipi nanti tak buka lagi :D

  18. 2008 November 27

    Untung Om Mbel gak bilang: Ini Aliffia hasil hubungan kita berdua dulu..

    Lho?? Lhoo?? Seandainya cowok bisa hamil he..he…he…he…

  19. 2008 November 27

    sudah pasti bersambung,
    karna dendam toh takkan pernah ada kata puas.
    huhuhuhuhuhu

  20. 2008 November 27

    Hem…
    Lanjutannya pasti seru nih.
    Pasti ada adegan nyiur syur-nya.

    *tak sabar menanti sambungannya*

  21. 2008 November 29
    Amitaba..hNo Gravatar permalink

    Anakku mBel, jagalah hati….. maksudnya hati-hati… hukum karma pada anakmu… kasihankan?
    Amitaba….h

    Mbel:
    Jadi, Lik Karmo ituh dihukum, yak ???

    :roll:

    ***ndak ngerti, apa ituh hukum karma…***

  22. 2008 November 29
    ALbaNo Gravatar permalink

    syukur.. masih kbagian sebelum di konci lagi…
    gini dong oom.. biar kita2 (yg males ini) nggak musti mbuka lapak MINTA PASSWORD segala… :D

  23. 2008 November 29

    we he he he he, selamat malam, lama ndak jumpa mbah, saya mohon “diajari yang keliru biar lancar kelirunya”……

    nganggur 4 tahun??????? hmmmmm…….

  24. 2008 November 30

    wah…..
    baru ketemu aja udah puas….apalagi……
    hi…hi…hi…
    *Lari….*

  25. 2008 November 30

    Berarti si aliffia sekarang dah 10 tahun dong! Cantik gak mbel?

Komentar situh bergantung pada amal dan ibadah situh

Note: Situh bisa pake basic XHTML dalem komentar. Email situh Ndak Bakalan dipamerin ke orang-orang.

Komentar lewat RSS