SURAT DARI JAMAAH…. (chapter I )
.
( inih dobosan yang sayah Copy Paste dari Inbox Surat E yang sayah trima November 2008. Surat E ini sangat panjang. Makanya sayah bikin bersambung karena mungkin situh akan bosen mbacanya. Beberapa kata atau kalimat sedikit sayah modif agar enak di baca namun tidak mengurangi makna. Semoga menginspirasi situh semua untuk ngikutin ajaran inih, atau malah ninggalin….. )
.
.CHAPTER I
.
Mas Mbel,…
Ya. Saya ingin memanggil mas saja. Terdengar lebih dekat dan mesra. Kalau saya panggil Oom, kok kesannya oom Mbel seperti “oom-oom lainnya” yang suka jelalatan itu.
Atau, barangkali mas Mbel juga seperti mereka ?
Ah, terserahlah. Masa bodo.
Mas Mbel….
Saya selama ini setia membaca tulisannya mas Mbel. Sudah sejak lama. Meskipun sama sekali nggak pernah ikut berkomentar. Tulisan mas Mbel memang terasa transparan, blak-blakan, dan sering kali juga vulgar. Tapi jaman sudah berubah ya mas, apa yang ada dikepala kalau memang harus disampaikan ya mas tulis saja. Gitu kan ?
Novel “gila” nya mas Mbel juga saya baca selalu terutama saat belum di password. Tapi sejak di password, saya jadi kehilangan bacaan yang “gue banget”. Sedih juga. Menyesal saya nggak mengkopinya dulu-dulu. Tapi saya berharap novel itu benar-benar jadi mas Mbel terbitkan. Janji ya mas ?
O, iya mas. Nama saya Shinta mas. Ah, saya ingin mengganti sebutan saya menjadi “aku” saja ya mas. Biar lebih dekat dengan mas Mbel….
Mas Mbel…
Tiap kali aku sedang sendiri di rumah kontrakanku, yang terbersit dalam kepalaku adalah membuka lap top dan langsung mengunjungi blog sesat ini. Nggak tau kenapa, reflek saja aku melakukannya.
Blog mas Mbel benar-benar sudah meracuniku. Akupun sebel banget kalau mas Mbel kelamaan nggak up date-up date. Ngapain aja sih mas ? Sibuk ngitung duit receh nya ya ?
Kali ini, entah kenapa aku memberanikan untuk menulis email ini buat mas Mbel. Nggak tau kenapa, pokoknya aku sangat ingin menulis. Sesuatu yang nggak pernah kulakukan untuk orang yang tidak benar-benar kukenal. Namun, semenjak semakin banyak foto-foto yang menampilkan “siapa itu Mbelgedez”, aku jadi serasa makin dekat saja sama mas Mbel. Maksudku, rasanya mas bukan lagi “orang dari antah berantah” di dunia maya.
Mas Mbel….
Bisakah aku mendapatkan password dari novel mas Mbel ? Kalau boleh aku akan sangat senang. Soalnya novel itu benar-benar “gue banget” deh, mas. Kalau nggak keberatan sih, boleh deh di email ke aku ya mas…
Mas Mbel….
Aku ingin sekali curhat mas. Aku tahu curhat ini sangat nggak penting untuk mas mbel. Mungkin malah bikin mas Mbel sebel. Tapi seperti tadi kusampaikan, aku sangat ingin menulis email ini untuk mas Mbel.
Begini mas. Usiaku saat ini 23 tahun mas. Jalan 24 sebenernya. Sudah 3 tahun ini aku kuliah di fakultas hukum sebuah PT di Jakarta mas. Aku keturunan **** dan ****** , yang lahir di Jakarta. Sebelumnya aku tinggal di Bintaro. Tapi saat ini aku mengontrak sebuah Paviliun di Jakarta. Tentu saja papaku nggak setuju dengan langkahku. Tapi papa nggak bisa protes lebih jauh karena papaku sudah pensiun dan kesulitan menghidupi keluarga. Terutama sejak mama meninggal, papa seperti kehilangan motivasi. Aku anak paling besar dan adikku juga sedang mulai kuliah.
Papa dulu memang telat kawin mas. Eh, nikah ya ? he..he..he.. Mungkin karena telat kawin itulah sehingga saat papa pensiun aku juga baru lulus SMA. Sementara itu pada saat yang bersamaan adikku juga baru lulus SMP. Lengkap sudah penderitaan papa harus menghidupi kami bertiga. Untuk membiayai aku kuliah jelas papa sangat kesulitan. Tentunya adikku lebih diprioritaskan. Padahal hasratku untuk kuliah sangat menggebu mas…
Enam bulan pertama aku menganggur selepas SMA sungguh nggak enak mas. Teman-temanku kuliah di sana sini. Beberapa mencoba bekerja jadi SPG. Aku sempat diajakin untuk bekerja sebagai SPG juga. Tapi entah kenapa aku nggak berminat.
Suatu hari tetangga jauh yang tidak kukenal bertemu aku di sebuah nasi goreng tenda pinggir jalan. Dia menyapaku dan mengajakku ngobrol sana sini. Orangnya lumayan cantik, ramah, dan naik sedan bagus. Sebut saja dia mbak Mia. Pada intinya, dia mengajakku bergabung dengan “bisnis” nya.
Entah kenapa, aku seperti kerbau dicocok hidungnya, aku mengangguk-angguk saja dengan omongannya. Bahkan saat dia hendak mengantarku pulang aku juga menurut saja.
Singkat kata, besok paginya aku dijemput sama kenalan baru yang tetangga jauh itu. Aku diminta pakai baju sebagus yang aku punya, asal bukan baju pesta. Kami ngobrol sepanjang perjalanan menuju kantornya, di kawasan Sudirman Jakarta.
Aaaahhh…. Sungguh nggak terpikirkan mas kalau aku bakalan menginjakkan kaki di perkantoran yang mewah-mewah itu. Pokoknya aku menurut saja saat dia membawaku ke lantai sekian. Saat itu sudah lewat pukul 10 pagi karena mbak Mia memang sengaja menghindari 3 in 1.
Kami langsung menuju ke ruangan dia. Sementara terlihat diruangan yang lapang beberapa orang sedang asik bertelepon. Rupanya dia seorang manajer. Aku memanggilnya dengan mbak saja. Dengan santainya dia langsung ngerokok dan memanggil office boy minta kopi. Aku sendiri minta teh manis hangat.
Mbak Mia mulai menjelaskan tentang “bisnis” nya ini. Yaitu asuransi. Dia menjelaskan panjang lebar produk-produk nya, serta komisi yang akan kudapat kalau aku deal dengan calon nasabah. Terdengar sangat menggiurkan, dan terus terang saja, aku sangat tertarik.
Tiga jam aku di ajarin ini itu, mas. Aku angguk-angguk mengerti, dan nggak segan bertanya kalau memang nggak paham. Kemudian mbak Mia bertanya beberapa patah kata saja yang masih terngiang di kupingku hingga sampai saat ini,
“Shinta sudah siap kaya ? “
Begitu aku mengangguk, mbak Mia langsung menggamit tanganku dan mengajak makan siang di Plaza Senayan. Tak lupa setelahnya dia merokok sigaret kesukaannya. Setelahnya, dia bertanya lagi apakah aku akan serius berbisnis dengannya. Sebab, kalau nggak serius mbak Mia juga nggak akan membuang waktu sia-sia untukku.
Terdorong ketakutanku akan pengangguran, aku katakan kalau aku akan serius bekerja bersamanya. Mendengarku berkata demikian, mbak Mia senang sekali dan langsung membawaku ke butik-butik yang ada di mall itu. Dia pilihkan baju-baju kerja untukku, semuanya ada 4 setel dengan total belanja nyaris 5 juta !
Aku bingung, dan sebenernya ingin protes untuk tidak berbelanja baju sebanyak itu. Tapi sekali lagi entah kenapa, aku iya-iya saja. Setelah dari PS aku diajaknya ke daerah Kebayoran Baru, ke sebuah salon yang terkenal untuk kalangan anak muda Jakarta. Di salon ini gaya rambutku diubah total, dan sedikit di high light kemerahan. Aku belum berani mewarnai dengan warna terang karena aku takut papaku akan bertanya macam-macam.
Tak kusadari, aku merasa cantik sekali saat itu mas. Sungguh. Aku nggak menyangka ternyata penampilanku bisa berubah hanya dengan mengubah gaya rambutku saja. Tentu saja mbak Mia juga yang membayarnya dengan menggesek kartu kreditnya. Sepertinya biayanya cukup besar. Padahal uang sebanyak itu bisa untuk makan kami sekeluarga selama 2 minggu….
Hari sudah sore saat kami keluar dari salon. Karena sudah berada di Kebayoran Baru, jadi sangat tanggung kalau harus balik kantor lagi. Mbak Mia langsung mengajak pulang. Sepanjang perjalanan mbak Mia selalu meceramahi aku akan sikap-sikap yang baik kalau kelak berhadapan dengan calon nasabah. Tentu juga mewanti-wanti ini- itu agar tetap waspada dan selalu menggunakan otak. Bukan menggunakan dengkul atau atas dengkul….
Setelah sampai didepan rumahku, mbak Mia masih memberiku uang sebesar 300 ribu. Untuk jaga-jaga katanya. Aku berusaha menolak. Tapi sebenarnya aku menolaknya juga nggak sungguh-sungguh mas. Terus terang saja aku sungguh sangat membutuhkan uang itu.
Aku menatap mbak Mia dengan menitikkan air mata, dan kukatakan,
“Mbak baik sekali….”.
Mbak Mia hanya tersenyum dan berkata,
“Mumpung aku bisa membantumu, Shin…”.
Aku memeluknya sambil terisak….
“Besok mbak jemput, Shinta pakai baju yang mbak belikan, ya ?”
Aku mengangguk mengiyakan.
.
.
Disklemer:
Pict diambil secara semena-mena tanpa ijin dari mbah Gugel. Bila ada yang keberatan, silakan komplen.
( bersambung…. )

.
Shinta, seperti yang kita perbincangkan lewat surat E, sayah bener-bener mem publish surat E mu. Tentu dengan sedikit modifikasi demi dirimu….
Weh, imam sesat ini punya fans ternyata…
Btw, jadi penasaran itu bisnis asuransi yg kyk apa ya?? Kyk MLM atau kyk modus2 penipuan lainnya. Hmm… Ayo teruskan!
bisnis yang mencurigakan. Asuransi iya namun dengan pemberian – pemberian sebelum kerja itu seperti halnya menanamkan ewuh-pakewuh, suatu saat jika disuruh sesuatu ndak bisa nolak karena … bla bla bla kemarin itu bla bla bla
babak pertama di mulai, nunggu setrikaan menghangat dulu hehehehe
Saya jadi penasaran, ini masih bagian dari cerita bersambungnya Mbah Mbel, atau bener-beenr dari seorang penggemar blog ini???
Ah, saya juga mau kirim e-mail mesra ke Mbah Mbel, siapa tahu Mbah Mbel juga akan mempublikasikan lewat blog sesat ini….
*gelar tiker*
*ngemil kacang rebus*
*nunggu lanjutan posting ini*
*duduk sebelah mbak itik nyomot kacang rebus ne ikutan nunggu sekalian ehmmm..
*gantiin kebiasaan mbah Mbel jualan*
kacang…!!! popcorn….!! Fanta….!! Sprite…..!!
*sambil nunggu laku, lesehan nunggu kelanjutannya…..*
Waduh gawat.. Shinta pasti dijorogin jadi WTS oleh si Mia tetangga jauh tapi gak dikenal itu.. Mungkin karena Shinta tinggal di Paviliun Jakarta (daerah mana tuh?) coba kalo ngontrak di daerah Pinang Ranti… pasti critanya laen deh… Gue yakin crita begini sungguh bisa terjadi, malah mungkin banyak terjadi pada kondisi cari kerja susah… tekanan ekonomi… Semoga Mas Mbel bisa menolong…
Huahahah!! Pasti modifikasinya banyak nih!! Gyahahah.. Dasar Om2 bejad!! eniwe aku kira itu foto beneran.. ck ck ck..
endingnya lendir nie kayaknya! ayo cak mana terusannya….????
@titiw: bejad tapi enak ndak tiw?
Prologue-nya terasa gariing Om..?? Ndak seperti biyasanya.
*mode:kuciwa ON*
Saat paling menyebalkan adalah saat membaca kata “Bersambung…”
Wah bacanya cepet selesainya Mbel. Apa ini kisah nyata spt yg situ tulis ataw ini cerbungmu????
btw…spannend baca kelanjutannya.
coba di perlihatkan skrinsyut emailnya, biar dipercaya
hehehe
wah keknya skrg jamaah bang mbel makin taat dan makin banyak
*ikutan duduk lesehan disampingnya bayu dan dengan sewena-sewa ngerebut kacang rebusnya mbak itik sambil komentar *
bangsad!!! bersambung!!!
wa…
seru seru..
*sambungannya om
cepetan!!
Ngapain aja sih mas ? Sibuk ngitung duit receh nya ya ? (*niru2 shinta)
heh tangi cak! masa jam sgini masih turu!
Wadoh, menyimak dulu aja lah sampe selesai.
Ngomong-ngomong sampe berapa seri nih ceritanya mbah?
Ngetes lagi,katanya ismet masuk tempat sampah
mencium konspirasi jahat bin lendir nihhhh…
untung nggak dipaswot, wekekeke..
kalo dipaswot, mungkin emailku lah yang muncul merengek-rengek minta passwot.. wekekeke…
*ditinggal ngalih karo bang mbel*
Save page dulu ah….
Sebelum digembok sama umMbel…
*ikut duduk manis nunggu kelanjutan ceritanya*
hmm murid sang imam mulai bermunculan
minta foto yang bener to om.. aku kan penasaran..
Mbel:
Walah….
semmm…telat postingan akeh kie…
ga suka yang bersambung >.<
bikin penasaraannn