RS. OMNI DAN UU ITE PASAL (KARET) 27 AYAT (3)….

2009 June 2
by mbelGedez™

.

rs-omni

Taon lalu, pada tanggal 30 bulan 8, ada seorang Prita Mulyasari yang menulis surat pengaduan di detik.com ( udah sayah skrinsut ) tentang pengalaman paitnya di RS. OMNI.  Isi pengaduan ituh  sayah copy paste di bawah inih….

Jakarta – Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.

Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi.  Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.

dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.

Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.

Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.

Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas.  Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.

Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.

Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.

Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.

Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.

Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.

Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.

Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

Salam,
Prita Mulyasari
Alam Sutera
prita.mulyasari@yahoo.com
081513100600

Nah, surat pengaduan ituh juga beredar ke milis dan forum di internet.  Yang terjadi kemudian, bukannya pihak RS. OMNI menyelesaikan masalah inih dengan elegan, tapi malah memberangusnya dengan tuntutan hukum pencemaran nama baek.

Penerapan UU ITE pasal 27  ayat (3)  oleh pengadilan terkesan dipaksakan dan terburu-buru. Apa iya, yang dilakukan Prita Mulyasari merupakan tindakan pencemaran nama baek…???

Nampaknya, pihak pengadilan mengabulkan tuntutan RS. OMNI dan mengganjar Prita dengan pasal karet tentang pencemaran nama baek, PENJARA 6 BULAN….!!!

Nah, menurut kolega sayah   Nukman Luthfie yang pakar On Line Virtual, tindakan RS. OMNI justru memancing perlawanan dari para netter dan blogger. Karena di era keterbukaan ginih, perusahaan yang TIDAK PROSUMER justru akan dijauhi konsumennya. Alih-alih akan menggunakan produk RS. OMNI, konsumen justru  ketakutan berobat ke sana karena ndak ingin mengalami seperti apa yang dialami Prita Mulyasari.

Mungkin dulu akan lebih murah biayanya jika RS. OMNI melakukan pendekatan horisontal, dengan mengunjungi Prita, ato memberi pengobatan gratis untuknya, dan mengakui telah terjadi kekeliruan.  Namun dengan menggunakan kekuatan kekuasaan, hasilnya justru terjadi perlawanan. Betapa mahal harga yang harus di bayar RS. OMNI karena tindakan tuntutan hukum yang diambilnya.

Lhadalah,…!!!           :shock:

Orang mengadu tentang pengalaman buruk yang terjadi, tapi malah kena ganjar hukuman penjara. Inih jelas sekali “penyalahgunaan” UU ITE tersebut membuktikan apa yang selama inih dikuatirkan oleh sejumlah kalangan yang  meragukannya….. [ KLIK DI SINIH ]

Lantas, apa sayah juga bakalan di penjara karena mempertanyakan hal beginih….???                  getok


Well….

Inih bener-bener negri yang aneh….

:roll:


Ayo dukung gerakan untuk membebaskan Prita dengan join Cause di Facebook, dan atau memasang banner di Blog

bebaskan-prita

54 Responses leave one →
  1. 2009 June 2

    Petromax dulu dah baca yang tikabgt

  2. 2009 June 2

    ayoooooooooo kopdar di kejaksaan. Ntar tak bawain brownis dari bandung lah pakde.

    Mbel:
    Yu,…

    Bikin gerakan Blogger turun Kejalan, Yuuuk…??? ;)

  3. 2009 June 2
    restiNo Gravatar permalink

    boleh tau dr. H …itu nama lengkapnya sapa kebetulan saya di rscm

  4. 2009 June 2
    adipati kademanganNo Gravatar permalink

    nanya mbah google dengan keyword : rs omni prita … jreng jreng jreng … sudah berada pada angka 1210. sepertinya akan bertambah lagi.

  5. 2009 June 2
    adipati kademanganNo Gravatar permalink

    #resti
    silakan di search ke mbah google dengan keyword : bantahan kompas 8 sept 2008
    semua nama tertera di situ.

  6. 2009 June 2

    Sip suhu…. ayo dukung Pembebasan Prita :army:

    Mbel:
    Ayo, pasang banner nya….

  7. 2009 June 2
    abengNo Gravatar permalink

    absen…. laporan terakhir, anggota cause sudah mencapai lebih dari 5.700. trims.

    Mbel:
    Oya ???

    Sayah orang ke 1000 kayaknya…

  8. 2009 June 2

    ikut dukung….
    bsok dipasang banner deh insyaAllah

    parah ni RS, orang minta penjelasan malah dipenjarain, ckckck

    Mbel:
    Ayo, pasang bannernya…..

  9. 2009 June 2
    abengNo Gravatar permalink

    wah.. kayaknya bisa jadi fenomena baru nih bos.
    dah 10.700 orang. time = 17.05 (GMT +7)
    jadi tambah semangaaaaat…!!!

    Mbel:
    Wokeh,….
    Siiiiiip dah….

  10. 2009 June 2

    kalau seribu bloggers melakukan copy and paste surat ibu prita, omni dan kejaksaan bakal pusing tuh. :D

    Mbel:
    Itulah yang sayah maksud, paman….

    Betapa mahal harga yang harus dibayar omni untuk sebuah arogansi….

  11. 2009 June 3

    mental dan perilaku orba masih tertatanam kuat ya, dan kesannya para pokrolnya omni itu cuma memikirkan “maju tak gentar membela yang BAYAR” muak banget saya baca kasus ini, asli pengen muntah…

  12. 2009 June 3

    Biarpun omni lewat kuasa hukum melakukan bantahan lewat surat resmi mereka, dan mampu memenangkan perkara, tapi biarlah sangsi moral masyarakat yang akan menghukum mereka. harap tahu saja hukuman dalam bentuk sangsi moral ini jauh lebih berat. saya dukung perjuangan ibu prita mbel

  13. 2009 June 3

    Manajemen busuk rumah sakit….
    Setelah merugikan konsumen dari segi pelayanan kesehatan yang asal-asalan dan cenderung terlihat hanya mencari keuntungan untuk mendapatkan pasien rawat inap, malah sekarang membawa sang pasien yang telah dirugikan ke meja hijau dengan tuduhan pencemaran nama baik, busuk… busuk….
    Padahal e-mail ini sudah lama sekali tersebar, tapi mengapa baru ada tanggapan dari rumah sakit Omni? Apakah dari pihak rumah sakit sama sekali tidak ada yang pernah buka internet?
    Klo masalahnya cuma tidak punya koneksi internet, kan bisa numpang ditempatnya Mbah Mbel…. :p

  14. 2009 June 3

    loh tindakan RS Omni Batavia itu sungguh lucu sekali bukan? kok ya malah menunjukan bobroknya manajemen itu rumah sakit.. kalo emang runut peristiwanya ndak seperti yang ditulis Ibu Prita itu ya ga usah segitu meradangnya dooong…

    kasus ini nampaknya sengaja di blow up untuk menunjukan kembali pengekangan kebebasan berpendapat.

    sungguh negara yang aneh. huh!

    Mbel:
    Kalo mereka mau menyelesaikan secara kekeluargaan semenjak awal, mungkin kasusnya malah cepat bungkam, dan OMNI ndak akan mendapat promosi buruk seperti saat inih…..

    Bisa jadi ndak lama lagi rumah sakit inih bakalan bangkrut….

  15. 2009 June 3
    junNo Gravatar permalink

    ini baru namanya korporasi mbelgedes (pake s bukan z). Susahnya jadi konsumen di negeri tercinta ini . . . . .
    Yah saya cuman bisa dukung via fesbuk . . . . . .smoga berarti . . . . .

    Mbel:
    Dukung terus yah….

  16. 2009 June 3
    WijayaNo Gravatar permalink

    Kebetulan saya dulu berkecimpung di dunia medis juga.
    Memang ada keprihatinan di kalangan dokter sendiri, bahwa mereka merasa kadar profesionalisme masih kurang.
    Salah satu contoh adalah memberikan hak pasien atas informasi penyakitnya, memberikan saran dan/ meminta persetujuan pasien/keluarga atas tindakan medis yang akan dilakukan, dan lain2.
    Ada kesan bahwa dokter kadang ketika ditanya oleh pasien ttg penyakitnya, mengatakan “tidak apa-apa” atau pernyataan lain yg menghibur (ada sisi positifnya juga). Tetapi untuk kasus yang gawat, mereka bertindak hati2 (salah satunya utk menghindari hujatan kalo salah diagnosis).
    Ada juga dokter yang saya temui ketika saya/keluarga jadi pasien, dengan ramah dan gamblang menjelaskan diagnosa, akibat, penyebab, tindakan medis yang diperlukan, biaya, dll dengan jelas (tapi dokter kayak gini langka lho).

    Komunikasi antara pasien-dokter di negri ini masih buruk. Mungkin juga dokter beranggapan bahwa “ah, ntar saya jelasin pasien juga blm tentu ngarti…” dan faktor kepercayaan penuh pasien pada dokter yg dianggapnya paling tahu sehingga mereka pasrah saja pada dokternya.

    Salah satu hal yg penting diingat: tidak semua dokter itu pintar!!!
    Ada yang menyelesaikan pendidikannya saja hampir kena DO juga :)
    Sebagai pasien, kita sebaiknya pro aktif utk mencari informasi sebanyak mungkin ttg penyakit/kesehatan kita.
    Sehingga, seperti di negara maju, dokter tdk sembarangan melakukan tindakan medis krn mereka tahu pasiennya gak goblok.


    Mbel:
    Benul banged…
    Besok sayah akan posting soal inih….

    Untuk kasus bu Prita, saya dukung sepenuhnya…..!!!!
    Pasien sudah memenuhi kewajibannya membayar, berhak mendapatkan pelayanan yg sepantasnya.
    Hukum harus adil, bukan untuk yang berkuasa dan punya uang lebih banyak!!!


    Mbel:
    Yang bisa kita lakukan memang baru sebatas inih….

  17. 2009 June 3
    WijayaNo Gravatar permalink

    Mbel, kalo ke dukun pasrah juga yaa….diapain juga…..
    Hehehehe……

  18. 2009 June 3

    sudah rame di media televisi juga, sayangnya kalah gaung sama kasus rumah tangga mano :|

    Mbel:
    Apa boleh buat….

  19. 2009 June 3
    adityaNo Gravatar permalink

    rumah sakit internasional kok kayak gitu…diganti aja deh namanya jadi rumah sakit biasa aja..gk cocok antara nama dan managemen Rs nya.
    wahai penegak hukum dimana hati anda berada…
    apakah Undang – undang perlindungan konsumen sudah mati…

    Mbel:
    Padahal Prita berobat kesana berharap pelayanan prima, kan ???

  20. 2009 June 3

    lagi heboh kayakna ney berita yah…

    emang beritanya mas mbel hot hot hot…

    Mbel:
    Ngikutin dik Risda yang hot…..
    ;)

  21. 2009 June 3
    Kreshna IceheartNo Gravatar permalink

    INDONESIA SUDAH SEPERTI AMERIKA!!!!

    Inilah akibat dari ekonomi pasar bebas yang kebablasan. Terlihat bahwa Indonesia mulai menganut politik right-wing konservatif pro-kapitalisme seperti di Amerika, dimana konsumen boleh diinjak-injak oleh perusahaan-perusahaan besar. Seperti di Amerika, freedom of speech dan kebebasan individu ditindas dan diinjak-injak demi kepentingan kapitalisme.

    Seandainya gua tidak golput sekalipun, gua tidak sudi memilih Presiden dan Capres yang pro ekonomi pasar bebas.

    Eropa dengan sistem ekonomi terkontrol berhasil melindungi kebebasan warga -nya dari penindasan kapitalisme, sementara itu kebebasan individu sangat dijamin (left-wing liberal). Beda banget dengan Amerika yang menginjak-injak kebebasan individu demi kepentingan kapitalis. Amerika membuat gua jijik dan pingin muntah.

    Pokoknya gua tidak mau memilih Presiden dan Capres yang pro-Amerika dan pro pasar bebas! Lebih baik gua mati daripada hidup di negara right-wing konservatif yang menginjak-injak hak asasi individu demi kepentingan bisnis!

    Mbel:
    Wooogh….!??

    Gitu yah….???
    :roll:

  22. 2009 June 3

    moga2 ibu itu cepet keluar dari penjara… trus undang2 ng njerat juga bisa di gimanakan gituh… biar gak njiret2 lagi

    Mbel:
    Ya…. Ya….

    Btw situh kemana ajah kok lama ndak keliatan….

  23. 2009 June 3

    banyak banget tulisan tentang ibu prita, yah meski cuman sebatas mbaca di sanah sinih…

    **tetep dukung pembebasan ibu prita**

    Mbel:
    Inih bukan tulisan ikut-ikutan.
    Memang semua blogger yang nulis artikel macem inih, sebagai “aksi” menggempur omni dari para netter….

  24. 2009 June 3

    UU ITE Pasal 27 ayat 3 itu kok kayak jadi pengganti Pasal Subversif masa Obra dulu ya?

    Saya hanya bisa mendukung lewat fesbuk, semoga dukungan itu berarti, amin.

    Saya ingat perkataan yang terhormat Bapak Bagir Manan: “HAKIM BUKAN CORONG UNDANG-UNDANG”. Semoga Hakim2 yang Mulia pemegang perkara Ibu Prita itu mau berfikir jernih dan tidak memutus berdasarkan pasal normatif belaka, amin……….

    Mbel:
    Kalo sayah ngeliat, Pasal inih ndak perlu ada. Wong ada pasal laen yang udah ada dari dulu. Kesannya memang tumpang tindih….

  25. 2009 June 3

    woghhh.. tulisannya merah semua…

    Mbel:
    Biar jelas bedanya…..
    ;)

  26. 2009 June 3

    tak bantu doa wae pak, sama mbantu komentar, lha piye wong mau masang banner ndak bisa karena warung saya itu masih gratisan. yang jelas saya setuju sama sampeyan, usaha yang bener-bener kontraproduktif dari si OMNI, mudah-mudahan nanti bandingnya dia kalah, ben kapok tujuh turunan delapan tanjakan!

    Mbel:
    WP tetep bisa dipasang banner….

  27. 2009 June 3

    update terakhir di detik.com.
    ibu prita udah dibebasin, kayake diganti tahanan kota deh.

    tapi sayangnya kasus ini malah dijadiin bahan cari muka calon presiden :(

  28. 2009 June 3

    Syukur Alhamdulillah,
    Ibu Prita diberi penangguhan dan statusnya menjadi tahanan kota. Semoga ia dapat benar-benar dibebaskan pada akhirnya.
    http://azharimd.wordpress.com/2009/06/03/akhirnya-ibu-prita-mulyasari-diberi-penangguhan-penahanan-apakah-keadilan-di-indonesia-itu-masih-ada/

  29. 2009 June 3
    Eko WDMNo Gravatar permalink

    Manajemen RS tsb bemer-2 urakan, masak orang mau ngritik membangun malah dipersoalkan dengan hukum. Dan pasal UU itu seharusnya dibuang, masak mau ngomong yang bener aja koq diancam 6 tahun dan denda Rp 1 M

    Mbel:
    UU nya syerem yak…???

  30. 2009 June 3

    wah bener2 rumah sakit yg bosok dan tidak sesuai dengan prinsip dan sumpah jabatan dokter (bagi yang dokter tau ya sumpahnya ap br gak terjadi dokter H yg lain)
    trus rumah sakit udah pasang nama ada internasional koq pelayanannya malah lebih kampungan daripada rumah sakit yg gak ada internasionalnya malu dunk malu
    apakah membangun sebuah rumah sakit hanya ingin mengambil keuntungan tetapi tidak membuat pasien sembuh?bisa mati semua nanti pasiennya dikasih infus terus padahal belum jelas penyakitnya
    buat RS Omni I aj ya krn udah gak pantees internasional jdi I aj okey mending RS ini ditutup aj deh sya koq melihatnya mulai dari menejemen sampe dokter yang jaga atau dokter umum bukan spesialist bahkan sampai perawatnya koq gak ada yang bener gmn tuh?jdi mending tutup aj ya kasian udah banyak yg bayar mahal tapi pelayanan gak sesuai toh uang itu diperoleh jga gak gampang koq dya mau mengambilnya dengan gampang dengan asal mendiagnosa pasien ampun Tuhan maafkanlah semua orang2 yang tidak mempunyai hati nurani ini

    Mbel:
    Katanya doa orang teraniaya dikabulkan….

  31. 2009 June 4
    AdryNo Gravatar permalink

    Rumah sakit sampah …. Mending tutup aja !!

    Mega Pro … Gusur aja semua RS dia, jadiin sawah, ladang, hutan… Go Ekonomi Kerakyatan !!!

    Mbel:
    Lha kok malah kampanye…???

  32. 2009 June 4
    donnyboyNo Gravatar permalink

    wah dasar rs . keblinger,, udah tahu pasien orang awam eh malam di kadal in , di bola,, sana sini ,, wah dasar RS gak jelas .. gimana kalo pasien nya dokter juga ya ,, mau gak ya di gitu in ,,,

    Mbel:
    Ndak tau, sayah….

  33. 2009 June 4


    MARI LAKUKAN 2 CARA:

    Pertama, dukung gerakan pembebasan Ibu Prita
    Kedua, JANGAN PERNAH LIHAT KE GEDUNG RS.SESAT ITU, APALAGI MEMASUKINYA, APALAGI BEROBAT, APALAGI RAWAT INAP. BLACKLIST RS.HINADINABANGSAT ITU

    doh doh doh… ndak habis pikir! MBELGEDEZ harus turun tangan karena dekat sama lokasi. Awas ndak! :D



    Mbel:
    Weeeeh….

    Deteksi marah-marah…..

  34. 2009 June 4
    WijayaNo Gravatar permalink

    Bu Prita dah ganti status jadi tahanan kota tuh, mbah….

    @Kreshna I: Lha ntar kalo presiden yg terpilih tidak sesuai dgn maunya situ, jadi bunuh diri dong……..jangan kalap ah, hehehe…..

  35. 2009 June 4
    j4pNo Gravatar permalink

    Saya ikut dukung bu Prita…
    Dengan pasal karet tsb tiap orang yang menulis di surat pembaca bisa diancam hukuman 6 thn penjara & denda 1 M ???
    Hukum yang gemblung….

    Mbel:
    Bener-bener ORBA jilid II……..
    :cry:

  36. 2009 June 4

    wah dakwaannya berlapis yaks… mengerikan klo sampe di vonis 6 thn :-ss

    Mbel:
    Ho oh….
    Ngawur tenannn…
    :(

  37. 2009 June 4
    nararyaNo Gravatar permalink

    heran deh dengan para pembuat UU itu….

    Mbel;
    Mungkin otaknya ada upilnya….

  38. 2009 June 4
    JanMoNo Gravatar permalink

    Saya miris Om mBel, penegak hukum sepertinya selalu tidak berpihak kepada yang lemah . . . . dan sepertinya makin banyak aja para profesional yang hati nuraninya tergadai oleh materi.

    Mbel:
    Mereeka tidak mampu merespon perubahan zaman yang udah bergulir ke digital, dan sekarang menuai akibatnya.

    OMNI bakalan kesulitan “membersihkan” arang yang di corengkan ke muka sendiri….

  39. 2009 June 4

    sayah mangsih penasarn ama bantahan RS itu di kompas yang katanya sampek 1/2 halaman koran….
    situh punya skrinsutnya kaga mbah??
    sayah butuh eneh…
    penasaran abiss…

    Mbel:
    Ndak punya jee….

  40. 2009 June 5

    @kevin

    kayaknya bukan bantahan, tapi pembelaan diri dan anceman yg telah dibuktikan, dan surat pembelaan itu yg buat team pengacaranya mereka.

  41. 2009 June 5
    andeewahjoeNo Gravatar permalink

    lha..kalo udah mbaca isi pasal itu, mas takut ndak? soalnya banyak tuh dobosan yang Judulnya panas…….
    ato karena yang di panasin merasa itu sebagai kritikan yang membangun? ndak seperti RS…yang dokternya merasa kebakaran jenggot!
    Kesan saya selama ini memang profesi Dokter terkesan kebal hukum gitu…parah!

    Mbel:
    Saya seh biasa ajah…

    Udah dari dulu sayah di laknat macem ituh… Timbulnya nama Durjana, kan karena saya di laknatin MLMers, HONDA, dsb…. :lol:

  42. 2009 June 5

    Gak tega ngebayangin 2 anaknya yang ditinggalkan karena dipenjara :-( .Sebagai solidaritas sesama ibu, ayooo..dukung pembebasan Bu Prita. Pak Mbel, banner udah aku tancapkan di blog nya Dita :-)

    Mbel:
    Wokeh…
    Sip, kita dukung terus sampe Prita bener-bener lolos dari jerat UU ITE…

  43. 2009 June 5

    halo Tuanku Imam Mbel,
    menurut Tuan, lebih hot mana bu Prita sama neng Manokhara??

    -britanya- maksutnya

    halahhh…

    Mbel:
    Sama-sama hot, tapi pasarnya berbeda….

  44. 2009 June 6

    waduh mbah… kok kabeh podo mencelah rumah sakit itu yah.. ??? kasihan.. dah ngeluarin duit banyak tuk bangun rumah sakit mewah itu, apalagi ada titel International nya..
    Kalo semua dah gak mau berobat disana tambah bangkrut pemilik rumah sakit itu.. (itungan ekonomi)
    Tapi kalo semua pasien disana nasibnya sama kayak mbak prita, wah tambah rusak wong-wong yang disana dibuat bahan percobaan… (itungan sosial)

    Wes cuma ngitung kui tok.. salam kenal mbah………..

  45. 2009 June 6

    Kucrit

    itu rumah sakit dah melakukan Pembohongan publik dengan adanya tulisan internasional, karena ijin depkesnya bukan gitu

  46. 2009 June 7
    100%bowoNo Gravatar permalink

    akan kuingat selalu, rs omni, dr hengky n dr grace….

  47. 2009 June 7
    AreepNo Gravatar permalink

    RUMAH SAKIT INTERNASIAONAL SESUAI DENGAN NAMANYA RUMAH SAKIT INTERNATIONAL JADI PENYAKITNYA YA INTERNATIONAL ALIAS MENYEBAR-NYEBAR.. MENGUAP2..

    JANGAN2 KALO NTAR ANE BEROBAT KESETI KENA PENYAKIT PANU DIBILAK KATARAK KULIT LAGEEE… trus kalo ada jerawat didiagnose kanker lage trus… trus keselek makanan dikira radang tenggorokan stadium 4 lage…

    waaah ndak sudhi… masa panuan di suruh opname… trus cuma jerawatan ampe oprasi sesar hahaha

  48. 2009 June 9

    Waaaah dunie makin engga waras.. negeri antah berantah nyang menyedihkan..
    Salam Sayang

    http://kangboed.wordpress.com/2009/06/01/krisis-multi-dimensi/

  49. 2009 June 10
    EconomerNo Gravatar permalink

    Apa yang paling ditakuti oleh penjual ? Keputusan tidak jadi membeli
    Apa yang mempengaruhi keputusan pembeli ? Kepuasan yang diperoleh.
    Kepuasan yang bagaimana yang positif ? Yang lebih dari harapan.
    Kepuasan yang bagaimana yang negatif ? Yang kurang dari harapan.
    Bagaimana agar sesuai harapan konsumen ? Harus sesuai selera konsumen
    Bagaimana jika tidak sesuai harapan konsumen ? Konsumen tidak membeli.
    Apa yang terjadi pada konsumen selanjutnya ? Konsumen beli yang lain.
    Apa yang akan terjadi pada penjual ? Penjual kehilangan pelanggan.
    Kesimpulan :
    Agar produk yang ditawarkannya tetap laku terjual, maka penjual harus menjaga agar pelanggannya tetap setia dengan jalan selelu menyesuaikan produknya dengan kebutuhan dan keinginan konsumennya, yang berarti akan selalu dengan tangan terbuka menerima segala masukan apapun untuk tujuan memperbaiki kekurangan yang masih ada dan meningkatkan kualitas produknya (baik jasa maupun barang) di masa depan sehingga kepuasan konsumen semakin tinggi dalam menggunakan produk yang ditawarkan.
    Gitu loh !

    Yang paling ditakuti oleh para penjual adalah keputusan TIDAK MEMBELI dari para konsumen. Keputusan tidak membeli itu, baik untuk pembelian pertama maupun pembelian ulang sangat dipengaruhi oleh berbagai informasi yang melekat pada produk itu khususnya sdari konsumen terdahulu. Jika konsumen terdahulu menyatakan kekurangpuasannya atas manfaat yang diperoleh dari penggunaan produk yang dibeli dari penjual A, maka konsumen tersebut memutuskan tidak akan membeli lagi dan menyampaikannya pada orang-2 yang dikenalnya sebagai promosi negatif. Sebaliknya jika memuaskan, maka akan menyampaikan promosi positif untuk membeli produk yang djual perusahaan A. Jadi promosi sesama orang yang dikenal adalah alamiah dan seimbang, bukan suatu bentuk pencemaran nama baik, karena yang menyampaikannya adalah pengguna produk penjual A. Di sini konsumen akan selalu berbuat seimbang, jika manfaat buruk maka promosi negatif dan jika manfaat negatif maka pron\mosi positif. Jadi tinggal pandai-2 penjual A dalam mengarahkan konsumennya agar mendapat kesan memuaskan yang berujung pada mendapatkan promosi positif dengan cara memperbaiki kekurangan yang ada sebagaimana isi promosi negatif agar menjadi positif. Bukan dengan jalan menyalahkan promosi negatif apalagi dengan melawan konsumen agar bertambah rugi. Tindakan tersebut bagi sipenjual sama saja dengan bunuh diri karena jika ia berhadapan dengan konsumen kritis da kreatif, maka sipenjual sama saja dengan membuka jalan kehancurannya. Ingat Konsumen adalah Raja. Konsumen bisa memutuskan apa saja tentang produk yang ditawarkan penjual. Nasib penjual sangat etrgantung dari laku enggaknya produk yang ditawarkannya kepada pembeli.

  50. 2009 June 12
    pengamenberdasiNo Gravatar permalink

    alhamdulillah…… bebas juga mbak prita….. bravo

  51. 2009 June 12
    zzzNo Gravatar permalink

    “Hukum Adalah Lembah Hitam”

    Mbel:
    Hmmmmm…..

    :roll:

  52. 2009 June 13

    hmmmm… sebagai salah satu pekerja rumah sakit (meski bukan dalam bidang medis) dalam kurun waktu hampir 12th, tentu sayah sangat miris dengan kasus ini, barangkali sudah saatnya pemerintah membuat aturan baku mengenai hubungan dokter dengan pabrikan farmasi sehingga infiltrasi “tertutup” antara ujung tombak pabrikan farmasi alias detailer dengan dokter bisa dibatasi dan pengenalan produk tidak terkesan “sentuhan pribadi” kepada individu dokter meski sudah tentu tanpa membatasi kewenangan dokter dalam merawat pasiennya. Serta sudah saatnya para dokter spesialis belajar memahami kata “Jasa Pelayanan” dan tidak melulu merasa sebagai “dewa” penyembuh…

    Mbel:
    Situh benul, boss dan memang rencana akan sayah bahas lebih lanjut….

  53. 2009 November 18
    rudiNo Gravatar permalink

    rumah sakit kampungan enggak pernah buka internet, tutup aja tuh rumah sakit busuk, bobrok mentang2 banyak duit seenaknya nyuap jaksa biarin lu jaksa yang nerima duit dan rs Omni cepat mampus……………………..

Trackbacks & Pingbacks

  1. Akhirnya Ibu Prita Mulyasari Diberi Penangguhan Penahanan: Apakah Keadilan Di Indonesia Itu Masih Ada? « AMD ZONE IS HERE

Komentar situh bergantung pada amal dan ibadah situh

Note: Situh bisa pake basic XHTML dalem komentar. Email situh Ndak Bakalan dipamerin ke orang-orang.

Komentar lewat RSS