SURAT TERBUKA UNTUK DEWO….
.
Boss Dewo…
Sayah nulis surat inih soale sayah pikir kalo sayah njawab di kolom komen atas pertanyaan situh, kok ndak kelar-kelar. Jadi mendingan sayah nulis di sinih ajah.
Gini lho, boss…
Nampaknya sayah mesti mencoba membantu ingatan situh untuk mengingat lagi, bahwa Blog sayah ituh bukan blog jurnal ilmiah. Bukan Blog ustadz, bukan pula Blog IT. Sedari kelahirannya sejak dulu tagline nya jelas ;
BLOG JELEK DAN SESAT
Meskipun isinya gado-gado sok ngilmiyah, sok techie mbahas-mbahas gadget, dan sok agamis dengan melakukan kritisi pada agama, khususnya Islam. Makanya sayah merasa perlu nambahin dengan kata-kata ;
IMAM MADZAB BOCOR ALUS
Maksutnya, cara pandang sayah terhadap Islam ndak melulu sama dengan Mainstream. Meski basic nya tetep.
Untuk semua ituh, seringkali sayah selalu menambahin dengan kata-kata ; cara pandang ato berpikir dengan ilmu Kemeruh. Situh tau kan arti kata yang sayah bikin miring ituh…??? Sayah terjemahin secara ngawur dari kata sok tau….
Sampe disinih apa situ udah paham maksut sayah…???
Nah, dengan keterbatasan ilmu yang sayah miliki ( maklum, cuman lulusan antropologi UGM ), sayah ndobos ngalor ngidul di Blog inih. Meskipun sayah inih ndak sepinter situh, sayah kalo nulis selalu sayah usahakan untuk ndak mbikin kesalahan. Meski kemungkinan ituh selalu ada. Kalo emang sayah salah yang cukup parah, biasanya sayah ubah isi dari tulisan sayah. Tapi kalo sayah sendiri masih meragukan kritikan yang menyatakan kalo sayah salah, maka saya ndak akan serta merta mengikutinya. Bolehkan…??? Artinya sayah meragukan pendapat orang, ato bisa juga sayah masih meyakini pendapat ato pikiran sayah, walo mungkin salah.
Adalah ndak bener sama sekali kalo sayah menjawab komen yang masuk dengan modal ndableg. Seolah, bener ato salah sayah jalan terus. Seperti yang Mbak Tombeng sampekan dalem kado ultahnya buat sayah lewat notes Fesbuk nya. O, Ya. Sayah yakin itu bukan pendapat mbak Tombeng pribadi. Ituh pasti hasil chatt dia dengan seseorang yang jauh lebih pinter darinya, dan mempengaruhi opininya terhadap sayah. ( sori mbak… ).
Kalo sayah ndak menjawab komen ato pertanyaan situh, tentu ada beberapa sebab kenapa sayah ndak njawab. Situh ndak usah merasa jerih payah situh dalem bertanya ato komen ndak sayah hargai. Ndak usah merasa begitulah. Anggep saja memang beberapa pertanyaan dan keingintauan situh memang belom mendapat jawab. Satu hal lagi yang situh mesti ngerti, dalam hal sayah ndak menjawab pertanyaan ndak semata-mata kepada situh kok. Kepada beberapa komentator ato penanya yang laen, sayah kadang melakukannya juga.
Adapun sayah kemaren ndak njawab pertanyaan situh, karena sayah menilai pertanyaan situh adalah pertanyaan konyol dan berjenis pertanyaan yang ndak perlu sayah jawab. Sayah pikir sayah cukup menjawab seperlunya dan sesuai esensinya. Sekali lagi, Blog sayah bukan Blog jurnal ilmiah. Tapi ngilmiah. Kalo situh ndak puas, situh bisa ngembangin keingintahuan situh soal hal yang dimaksut. Gugling, misalnya. Sayah kan ndak sedang berhadapan dengan anak balita yang segala sesuatunya mesti disuapin. Benul begituh…???
Kalo sayah bilang tidur miring ke kanan menyehatkan, dan situh ndak percaya dengan bertanya lebih jauh, sayah yakin dasarnya bukan semata-mata ingin bertanya. Namun lebih kepada pengingkaran akan kebenaran kata-kata Islam lewat nabi Muhammad.
Boss Dewo,…
Sayah tau banged cara berpikir situh. Sayah tau banged “kegeraman” situh kepada Islam. Sayah “merasa” cukup mengenal “siapa” situh. Sayah bisa memahaminya sejak jaman situh jadi Blogger Provokator era 2007. Jadi sayah tau banged bagaimana situh berdebat soal Islam. Tau ndak boss, beberapa komentator setia di Blog ini sempat menuduh sayah, bahwa sayah melakukan konspirasi sama situh dengan melakukan debat kusir, biar Blog inih keliatan rame. Menyakitkan bukan…???
FYI soal tidur miring ke kanan inih sayah dapetkan saat sayah aktif di Seni Tarung Drajat 1995 lalu. Dimana salah seorang rekan menganjurkan sayah untuk tidur miring ke kanan, setelah latihan malam. Karena jantung perlu istirahat setelah bekerja keras. Sayah ikutin anjuran ituh dan sayah memang mendapatkan manfaat. Jadi sayah dapetkan pengetahuan ituh justru bukan dari anjuran Islam. Meski dikemudian hari sayah baru tau juga, bahwa Nabi Muhammad ternyata menganjurkan ituh.
Sama halnya dengan beol dan kencing jongkok. Sayah pertama kali mendapetkan pengetahuan inih bukan dari Islam. Melainkan dari Yoga. Yoga ada mengajarkan bahwa kencing dan beol jongkok lebih sehat daripada kencing berdiri dan beol secara duduk. Meskipun, dikemudian hari sayah baru tau kalo nabi Muhammad ternyata ada mengajarkan seperti ituh.
Bagi sayah pribadi, sayah ndak ngeliat soal anjuran-anjuran ituh karena Islam nya ato karena nabi Muhammad yang bilang, namun semata-mata secara ngilmiah pun masuk akal. Tidur dengan miring ke kanan, tangan kiri dan kanan sebagai “bantal”, ternyata memang membuat jantung lebih rileks dalem bekerja. Darah pun mengalir lancar ke otak karena posisi kepala menjadi lebih rendah dari jantung. Itu yang sayah tau. Bukan soal tidur ngadep kiblatnya, boss.
Sayahpun ndak akan segan mengadopsi Yesus yang manggul kayu palang salib, andai ternyata hal ituh membawa manfaat buat sayah. Misalnya badan sayah jadi sehat dan kuat. Otot tangan, badan, dan kaki menjadi kuat. Masalahnya, belom ada artikel ato anjuran yang menyatakan bahwa dengan rajin manggul palang salib badan jadi sehat dan kuat. Ya, tho…???
Well…
Lebih kurangnya begitu, boss.
Sayah sadari, sayah manusia biasa. Bukan seorang Dewo Dewa. Jadi ya mohon maap lah kalo sayah ndak isa memuaskan semua orang, termasuk situh. Adapun sayah ada salah kata, maapin deh. Maklum, bocor alus….

wehehehe..bhinneka tunggal ika aja pokoknya…berbeda-beda yang penting ama mbak ika..hehhe
lakum dinukum walyadin
blog mbelgedez masih dipertanyakan dan digugat? doh.. kenalilah yang dikritk sebelom mengkritik
eeh tapi pernah juga aku komen nda di riple sama mas mbel lhoo, trus aku komen ulang kok komen ku ga di baless seehhh, tapi kok ga dapet surat terbuka juga yang di khususkan buat aku yaa
)
kemeruh bukanya berarti bikin “keruh” bozzzzz wakakaka…
kok pada ngeyel???
*ngokang bedil*
hmmmm…
jadi binun bicara apa hehehe soale yang namanya manusia selalu merasa dirinya paling benar begitupulah sayah, di satu sisi sayah yakin bro dewo memang sering pake kacamata kuda alias klo dia lagi njelekin islam ruar biasa kata -katanya tp menurut dia sedang menjelaskan dengan kasih sementara klo dia nemu ada yang jelekin kepercayaanya sungguh marah sangad en bilang itulah buah yang mencerminkan pohonnya, but that’s humanbeing isn’t it or maybe being human kecuali malaikat kali yak yang bisa saklek objektive…
Disisi lain sayah pribadi juga sangad tidak nyaman dengan postingan si bozzz yang seringkali menggunakan kata – kata tidak layak untuk saudaranya sesama muslim diluar masalah apakah mereka muslim ngawur menurut pandangan si bozz atau tidak tetapi menurut sayah hendaknya mempertemukan kesamaan bukan malah memperlebar perbedaan untuk membangun ukuwah bukan ?
Tetapi sekali lagi namanya juga manusia selalu merasa paling benar seperti sayah yang komen disini en merasa paling benar so biarkanlah en grow up mann…
btw seperti komen diatas koq khusus bro dewo pake surat terbuka hehehehe…
wis lah.. blog iki ditutup ae lah!!!
mbahas panganan ae yuk, kang?
Hiks… kok daku jadi terharu?
Padahal daku mempertanyakan banyak hal tempo hari itu karena daku benar-benar menyangsikan apa yang dituliskan Simbah. Googling? Sudah kok. Mosok Simbah ngga tahu kalau aku tuh selalu menggantungkan diri ke sebuah search engine berjejuluk google?
Namun daku tidak menemukan referensi yang tepat, makanya daku mempertanyakan keilmiahan tulisan Simbah. Lantas kepada siapa daku bertanya? Ya kepada Simbah tho? Bukankah Simbah yang sedang membahas masalah ini? Tanya ke Kevin? Halah Mbah, pertanyaannya apa, jawabannya apa. Dianya pakai marah-marah lagi. Piye jal?
Dan lagi daku kok melihat ketidakseimbangan antara tulisan Simbah. Di satu tulisan Simbah menghujat, tetapi di tulisan lain Simbah bilang bahwa yang menghujat itu munafik. Belum lagi dikaitkan dengan tulisan-tulisan sebelumnya yang tambah menampakkan ketidakseimbangan.
Mbah, daku ini termasuk penggemar tulisan Simbah. Dari dulu sampai sekarang. Namun melihat kejanggalan ini, daku pun ingin mengajak Simbah untuk menyelami diri Simbah sendiri. Bukankah sebelumnya juga sudah beberapa kali terjadi diskusi panjang di antara kita? Sebelumnya kita membahas “ranah publik”, generalisasi, gelang magnet, dll.
Dan kalau pun ada masalah, selama ini daku selalu berupaya menyampaikannya dalam bentuk yang terbaik. Demikian pula dengan Simbah yang juga melakukan hal yang sama kepadaku, yaitu menegur & menasehatiku. Bahkan daku lah yang lebih banyak belajar dari Simbah. Tidak hanya belajar dari Simbah, daku pun banyak dibantu oleh Simbah.
Jadi kalau ada diskusi semacam ini, anggaplah ini sebagai bentuk tanggung jawabku juga sebagai sahabatnya Simbah. Daku yakin kok kalau daku nulis aneh-aneh, pasti Simbah pun akan menegurku juga. Ya tho?
Persahabatan kita itu unik. Yang namanya sahabat itu bukan berarti 1 orang harus ngikutin sahabatanya. Bukan juga harus selalu mengamini sahabatnya. Tapi juga harus saling melengkapi, baik pemikiran, perbuatan, dll. Ya tho?
Jadi kalau daku tempo hari banyak bertanya2 ke Simbah, itu bukan berarti ada kegeraman, kebencian, atau rasa2 negatif yang lain dariku terhadap Simbah. Bukan lantas karena Simbah dan bahasannya Islam kemudian daku geram. Itu juga salah besar Mbah. Sekali lagi: ITU SALAH BESAR.
Justru karena daku menganggap Simbah itu sahabat, makanya daku care dengan tulisan & sepak terjang Simbah. Coba kalau tidak, daku pasti cuek. Atau jika memang benar kalau daku geram, tentu jawabanku tidak akan sehalus ini dan sebelumnya. Ya tho?
Ya sudahlah Mbah. Kalau pertanyaan-pertanyaan tidak bisa dijawab, atau karena dianggap konyol, ya daku minta maaf sama Simbah yang sebesar-besarnya. Pasti Simbah tidak hanya menganggapku konyol, tapi kurang ajar juga. Tapi kalau Simbah mengerti ada apa di baliknya, daku rasa Simbah akan berterima kasih padaku.
Peace…
@Ferry,
Halah… lagi-lagi nyinyir di mana-mana.
Mbok ya dipelajari dulu masalahnya baru komen.
Wakakakakaka,
Akhirnya dibuatkan sebuah posting khusus…..
Daripada ikutan fitness bayar mahal hanya untuk mengencangkan otot punggung, paha dan betis, kayaknya mendingan angkat balok kayu, Mbah… Rambut gondrong dan pake ikat kepala berduri, biar kelihatan lebih sangar dari preman.
@ atas – atasnya lagi tanpa sebut nama,
bicara tentang islam tentu dampaknya luas, sayah sebagai muslim tentu punya alasan untuk nyinyir…
apakah harus dibungkam ??? silahkan kalau mampu…
Saya ini Katholik totok, dari simbah saya dulu keluarga saya kompak menganut Katholik, dari kecil saya juga dididik secara Katholik, sekolahpun demikian, dari TK sampai Perguruan Tinggi, saya masuk di institusi2 Katholik, tapi toh saya endak mau menutup hati terhadap sekitar saya, saya sadar bahwa saya hidup di lingkungan yang mayoritas beragama laen, tapi toh itu endak membuat saya merasa ekslusip maupun minder..Saya masih sadar bahwa kita ini hidup bukan saja diikat oleh aturan2 agama, tapi juga tepo sliro dan persaudaraan dengan sesama kita di dunia, akan jadi percuma kalo kita nggacor masalah agama seolah2 kita adalah pengikut yang paling setia, tapi endak mau “melihat” saudara2 kita. Surga sepertinya lebih terbuka buat orang2 yang mau care ma sodara2nya, pada orang yang mau membuka hati buat teman seperjalanannya di dunia.
Tapi sebagai Katolik totok, sakit juga mbaca posting sapimoto…tapi saya endak mau komen balik…saya masih tetap meyakini yang dia maksud itu sebagai jalan keselamatan BUAT SAYA…Kalau memang orang laen endak punya kerjaan dan mendeskripsikan Dia seperti itu ya silakan!!
Wah… wah…
.Dan kedepannya sebaiknya situh jangan pake kata2 yang kasar yah? :wink: Mbah, postingan om bagi sayah lebih mencerahkan kok. Salam.
lah blognya simbah mbel ini kan miliknya mbah mbel, jadi ya suka2 dia nulis atau njawab komen dong. lagian tagline nya juga sudah jelas.
bang mbel…..
hehehe
mau dibantu jawab bang? wekekekek
saiah ngak mampu…
@prasetyandaru : mohon maaf yang sebesar-besarnya, pada dasarnya saya sependapat dengan apa yang saudara tulis dan yakini, yaitu lebih kepada hubungan antara manusia, saya pun juga menganut paham tersebut. Tetapi lama-lama dongkol juga dengan statement yang jelas-jelas menyerang kepada sebuah keyakinan yang saya yakini.
Sekali lagi mohon maaf atas luapan emosi diatas, maafkan atas kekhilafan tersebut.
@Mbah Mbel : jika komentar saya yang diatas malah membuat kisruh blog ini, mohon untuk dihapus. Terimakasih.
@sapimoto
AKUUURR!!!!
ibarat setasiun tipi, blog ini adalah tv one
cukup nyengir saja
ibarat situs berita online, blog ini adalah detik.com
ibarat grup musik lokal, blog ini adalah slank
ibarat terminal bis, blog ini adalah pulo gadung
ibarat selebritis, blog ini adalah komjen susno duaji
ibarat bintang pilem porno, blog ini adalah miyabi
ndak khotbah review product, ndak khotbah celaan, ndak khotbah pengalaman pribadi sampai khotbah nulis surat saja nyang mampir 1000 lebih,nyang komen diatas 70…betul-betul luwar biyasa untuk ukuran blog sesat
nyang setuju jangan angkat tangan…sebab sayah juga ndak tau kalau situh angkat tangan
maav sayah tdk sedang muji-muji kayak rapat di DPR tempo hari tapi sayah sedang membicarakan sesuatu nyang nyata dan bener-bener adanya… tolong jangan tepuk tangan
betewe, dulu saya pernah mbaca khotbah nyang judulnya kalo ndak salah “Ratu Adil itu Ada” bukankah penelusuran dan pengungkapannya merupakan sinergi dari juragane mbelgedez dan bos dewo?
sayah rasa ini hanya kembang-kembang persahabatan saja…
pis lop n gawul
ohh gitu to *marai tambah mumet maca posting karo komen-komene*
wes gak pake kelamaan, cepet dilamar sono si dewo! kwkwkw…
@atas
STUBUH!!!!!!!
cepetan kawinin!!!!!
@ dewo..
kalok tak jawab lagi ntar ga kelar2. seng waras ngalah wis…
tercium bau PDKT antara sapimoto dan prasetyandaru …
skalian hetrik!!!!
gara2 post yang inih, jadi banyak yang sirik minta dibikinin post khusus tuh mbah!!!!
hakwakwkawkoawkakwa
nonton diskusi ah
Om mbel semakin sabar ya, hampir pantes dipanggil ustadz. buktinya kalo ada penanya ngeyel,yo bisa empet gitu. dg teman apa perlunya mereh-mereh, akur boss Mbel. Memang tidak semua yang di bumi ini, terkena cahaya Islam, ada sebahagian yang masih gelap gulita. Dan mereka tidak tau, kawin dengan darah daging sendiri, dilarang. Makan babi, haram. Makan buaya, dosa. Ini bukan maksud saya menyindir bos Dewo, tapi itu benar. Saya juga punya beberapa teman Salibis yang baik2, bos Dewo mau kenal saya apa enggak ya? (ngarep : mode on) tapi ya itu, saya ndak bermaksud mengajak beliau masuk Islam, karena itu nglancangi hidayah Tuhan. Kenal aja masak ndak boleh, kalau ndak mau ya ndak maksa. *santai….*
opo iki rek? hehehe….memang mantep dunia blog yang kata temen2ku dunia jari
Surat terbukanya siiip Mbah. Semoga ada stasiun telepisi yang berkenan ngangkat “perseteruan para penegak keyakinan” ini ke layar kaca buwat ngimbangi perseteruannya para penegak hukum yg lama-lama semakin bundet ndak karuan itu. Ben gayeng sekaliyan.
*Saiya usulkan judulnya: Simbah vs Putu-ne*
@Prasetyandaru : thanks, Mas.
@Kevin : walah, mosok jeruk makan jeruk, Mas? :p
@Mbak Ida Lazufa,
Tentu daku mau berteman dengan Anda.
Salam kenal. Terima kasih atas pertemanannya.
@Sapimoto+Kevin:
Sim2 meneer, di KTP saya masih tertulis WANITA, tapi kan inih dunia cyber, ndak ada KTP2an, wong saya sering encounter sama orang yang ngakunya sih cewe’ ato sebaliknya..tapi ndak tau beneran cewek ato cowok apa endak…namanya juga dunia cyber..masih perlu klarifikasi dan verifikasi di dunia nyata. Tapi jangan dipanjang2in lah, yang penting mari kita sama2 ngasu eh ngangsu kaweruh di blog sesat dan jelek ini.
@Prasetyandaru
Kalau saja semua penganut khatolik seperti anda, barangkali tidak akan ada kusir yang berdebat hehehe…
Gimana kalau anda juga mengajak domba lain jadi seperti anda agar indon ini bias lebih baik dari pada jadi kusir yang sering berdebat tunjuk hidung lain elek merasa hidung sendiri bagus…
@ Ferry ZK
hahahaha..susah meneer..semua asalnya dari kesadaran diri sendiri, mau di kojahi sampe lambenya jadi lambe sumur gak bakal bisa paham.
@Prasetyandaru,
Sudahkah Anda mengunjungi sini Anda bisa turut berpartisipasi dalam keprihatinan ini.
@ mas Emanuel Setio Dewo, matur suwun mau jadi teman saya. kerana Kristen ada katolik n Protestan, dan kalau saya sebut Kristen saja berarti hanya mengacu kepada salah satu, maka saya menghormati sampean dan juga orang Nasrani dengan sebutan salibis, orang-orang salib, begitu ya.
Seperti lainnya, saya juga menggemari blog boss Mbel ini, mungkin karena blog nggantheng, cerdas, bijak juga nggemesi. dulu, sering saya berdebar membacanya, he he. seperti postingan tentang review cewek penipu yang dipoto boss Mbel kancrutnya (maksudnya kancrut apa celdam bin kathok to mas Dewo?), haduuuh andai saya yang di review begitu, betapa maluuu, jangan doooonk. Saya juga baca postingan itu, karena dah lama juga langganan rss feed blog om Mbel ini, pake operamini di hp n93 saya yang menyesatkan.
Iya, hp saya bisa bikin foto yang menyesatkan. Sayah inih wedok, itu foto sayah di fesbuk, pake nama angsli farida lazufa, mosok saya di panggil Bang, he he. Dikira banci kali ya. Padahal itu hp, saya belinya baru, dari nokia Gubeng Surabaya, tgl 6 Juni 2006. Jadi, saya punya kartu member Nokia Hospitality Lounge juga, dulu saya seneng banget.
Tapi ya ndak nyalahkan Nokia saya yang keren, pun kenapa Tuhan memberi foto wajah seperti itu. Bukankah Tuhan telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk? Saya syukuri saja. Kali aja ada yang nanya-nanya boss Dewo, tolong katakana, saya memang wanita. Tengkyu.
seperti koment boss Prasetyandaru di atas tentang KTP dan cewek, kayaknya beliau ditanyai tentang identitas saya, he he. Salam kenal kepada boss Prasetyandaru.
berpelukaaaan…
Kalo pendapat dosen fisika saya, kenapa tidur miring kanan dan ngadep kiblat juga berkaitan dengan pergerakan medan magnet dunia ini, karena dengan posisi tersebut maka kita ikut dalam selaras pergerakan bumi.. begitu…
akur-akur… seperti kata ikhsan idol :
Lakum diinukum waliyadiin..
Mbel:
Kalo yang tidur ngadep kiblat, sayah belom dapet penjelasan yang lebih ngilmiah, Nden. Alesan yang sayah trima cenderung kepada “rasa hormat” pada arah kiblat.
Btw, apa yang situ sampekan sangat menarik….
kalo saya sih seru2 aja debat2an sama orang, mbah. walaupun tu orang ngeyel, “menusuk”, atau nyinyir, saya berusaha sabar aja buat ngeladenin. karena menurut saya, walaupun sedikit kita pasti dapet wawasan dari tu orang.
seperti tulisan di kaos kesayangan saya, “gagasan besar berawal dari obrolan.”


jaman saya baru ngeblog dulu pernah juga sih.
malah jadi kangen debat2an sama blogger. hehehe…
@ Emanuel Setio Dewo
Saya sudah pernah mbaca bro, dan kebetulan saya bersama beberapa temen sudah pernah berkunjung ke lokasi pembangunan gereja itu. kalo menurut saya ya, hanya karena kita endak punya gereja terus kita endak beriman?endak juga kan?saya ya ikut prihatin..tapi mungkin ini bagus juga untuk permenungan kita (baca:umat katolik) itu lho, disana mau ke gereja aja susah..kita yang diberkati dengan kemudahan ke gereja malah angot2an ato ke gereja tapi pake baju yang belon jadi, kurang sopan, ato ke gereja hanya sebagai kedok buat pacaran.
@ida lazufa
lam kenal balik
Hari Jumat ini endak ada kothbah to meneer? Wah jan, bocor alus temenanan iki.
@Prasetyandaru,
Saya pribadi tidak setuju kalau orang mau ibadah dihalangi, sebab ibadah merupakan hak yang tidak boleh dirampas oleh siapapun, lagipula apa untungnya menghalangi orang ibadah ???
Cuma mbok ya liat dulu perkaranya, apa iya butuh gereja baru ? apa betul tidak ada wadah untuk beribadah disekitar situ ? apa nanti sudah dibangun tidak kosong melompong lalu cari domba baru ?
Kalau niat baik, kumpulkan jemaat berikut foto copy ktp nya yang menunjukan memang warga setempat, kalau jumlahnya memang signifikan dan layak buat membangun gereja baru apa masih ada alasan pemda tidak mengizinkan ?
lagi pula mesjid dipakai 5 kali dalam 24 jam untuk ibadah, kalau gereja kan paling 1 x seminggu atau taruhlah ada 2 sesi sabtu 2 sesi minggu itupun kalau jemaatnya buanyak…
So, be wise aja lahhhhh…
* sorry bozzz nyinyir disini soale nyinyir disebelah sudah tidak diperkenankan hehehe…. *
@ Ferry ZK,
Gereja itu memang dibutuhkan untuk jemaat yang disana meneer, bbrp waktu yang lalu saya kesana, dan ternyata gereja terdekat dari lokasi cukup jauh, selain gereja terdekat itu sudah overload jemaat, sedangkan, jemaat disitu sepertinya sudah ideal untuk membangun sebuah stasi yaitu sekitar 160 KK, kalo rata2 1 KK= 4 orang kan sudah 640 orang. Tapi ya balik lagi ke pernyataan saya tadi, semoga kejadian ini menjadi permenungan buat kami untuk lebih tekun beribadat kek apa yang saya bilang ituh. Dengan membuat statement kek gini mungkin saya bakal dicerca banyak orang katholik, dan mungkin dicap sebagai pengkhianat. Ya monggo, toh kalo memang kita punya relasi dengan Tuhan, kita bisa berdoa dimana saja. Mungkin Tuhan emang belon ngasih umat disana sebuah tempat ibadat, biar lebih tekun lagi berdoa dan memohon.
@ Prasetyandaru,
wah klo kasus nya gitu ya barangkali pemda kebangetan (* sudah pake fotocopy ktp or kk tuh ??? *), tidak ada salahnya minta bantuan MUI setempat biar lebih afdol, toh dalam ISLAM masalah akidah bin keyakinan itu hidayah sang pencipta jadi tidak ada alasan untuk menghalangi, tinggal dilihat seberapa jauh gereja terdekat, seberapa sulit jemaat menjangkau, seberapa besar gereja dibuat jika asumsi awal 160 KK dengan asumsi 4 orang per KK dan pertumbuhan jemaat baru kedepan (* tp bukan dari domba baru yang ditarik lhoo yaaa *) plus mestinya gereja dibangun di area/komplek yang memang area domisili jemaat…
Di perumahan tempat saya tinggal sekarang, sudah mulai banyak yang menyuarakan untuk mendirikan masjid, padahal di awal pembangunan dari pihak developer sudah menyatakan tidak akan membangun rumah ibadah.
Dalam beberapa obrolan, saya mencoba menanyakan jika dari umat lain juga ingin mendirikan tempat ibadah sebagai wujud persamaan hak sebagai penghuni lingkungan perumahan, malah ada yang ngotot kalau didaerah sini tidak boleh ada pendirian gereja. Cara berpikir yang sangat susah saya mengerti, katanya hidup di negara yang mengenal 5 agama, tetapi masih banyak yang berpikir seperti ini.
Lagipula di kampung belakang perumahan, sudah ada 1 masjid dan mushola. Di perumahan depan juga sudah ada 2 masjid lumayan megah. Mengapa tidak memaksimalkan fungsi dari yang sudah ada??? Atau jika memang ingin tetap dibangun masjid dalam perumahan, maka biarkan pula warga perumahan selain Muslim juga menuntut hak untuk didirikan rumah ibadah mereka masing-masing. Toh jika rencana pembangunan disetujui, nanti dananya dari pihak developer dan calon pengguna rumah ibadah tersebut, tidak akan meminta bantuan dari warga yang berbeda keyakinan.
Dunia yang aneh…
“Saya tidak tahu namun akan terus mencari tahu” – Quote dari Kopral Geddoe kalau ditanya soal agama, tuhan, iman dan semacamnya yang sudah mribet.
“Segala sesuatunya di dunia ini tergantung dari sudut mana si pengamat memandang” – Almarhum Wadehel
“Karpet!” – Sule, Opera van Java
postingan si mbah emang greeeng, komennya pun bisa melebar kemana2.
Wadooohhh…
@Prasetyandaru & @Sapimoto,
Sudah bertahun-tahun yang lalu sebuah perumahan tempat kakak saya tinggal ingin membangun gereja. Area sudah ada. Tanda tangan juga sudah oke.
Kerinduan akan berdirinya gereja di situ adalah karena jarak ke gereja terdekat pun ternyata jauh. Namun apa yang terjadi? Warga sekitar dihasut untuk keberatan dengan pendirian gereja di situ. Ironisnya, para pendemo yang tukang ojek itu mengaku kalau dibayar untuk demonstrasi keberatan pembangunan gereja.
Akhirnya bertahun-tahun gereja tersebut tidak pernah berdiri.
Oh ya Pras, saya cuma mengajak prihatin kok. Saya tidak perlu mengajak interospeksi Anda. Cuma kalau kita bisa turut prihatin, diharapkan ada langkah nyata dari kita. Kalau saya sih bentuknya paling minimal, yaitu dengan menuliskan tragedi-tragedi ini ke blog. Supaya semua orang tahu kalau “toleransi” itu hanyalah omong kosong.
GBU
@ boss Mbelgedes
permisi saya tak duet dengan mas Dewo, pake langgam lain ya Boss, trus nanti balik ke topic.
@mas Emanuel Prasetyo Dewo Temanku,
suwun link-nya. Ternyata mas Dewo hampir seusia aku to, he he. Baru tau juga, pean rajin nanya2 di sana. Lovepassword siapa to dia, keren, kenalkan dong. saya heran, kok mau juga mas Dewo debatin dia. Dari bahasa-nya, masio suka ha ha hi hi, lovepassword itu nampaknya Mantiqi Ushuluddin. dah runut, dah bener cara dia jawab sampean. Debat kalau di Islam, ada ilmunya, namanya Mantiq. Kalau ndak pake ilmu mantiq, ya nanya aja terus, bawa pecut, gebukin mungsuh sampek capek dewek.(* mending ngaso mas, leyeh-leyeh * )
juga bener sih, bos Mbel Antropolog UGM, tapi background beliau kan banyak teman dan saudara Salafy, jadi referensi Islam-nya banyak. kalo mau debatin masalah Islam, ati-ati aja. Usul saya kalo mau menang, mending debat dengan saya, masalah teknik mekanik, gimana Mas Dewo, pasti menang.
Inti masalah link tersebut, izin pendirian gereja Katolik Stasi Santa Maria di desa Cinangka, Bungursari dicabut Pemkab Purwakarta. Meski memenuhi syarat khusus yaitu : memiliki jemaat minimal 40 orang, tetapi, persyaratan teknis wajib lainnya tidak terpenuhi, yaitu persetujuan minimal 60 warga di lingkungan lokasi calon gereja. Di situ, yang setuju didirikan Gereja hanya 45 orang. Berarti syarat minimal saja kurang 15 orang ya bro Dewo? Itu kenapa ijin dicabut bupati kali ya.
kita asumsikan saja, kalo 40 calon jemaat adalah warga situ. Berarti dari 45 orang yang setuju, hanya 5 orang donk dari agama lain (mungkin Islam semua). Betapa akan mendirikan gereja di tengah-tengah komunitas muslim? Padahal dalam kasus ini, tetangga terdekat agama Kristen adalah agama Islam yang mayoritas di situ. Apalagi kalau calon jemaat Gereja adalah orang dari luar daerah, waduh.
Tidak seperti yang diributkan orang, tentu izin pendirian Gereja, memang ndak bisa disamakan dengan pendirian diskotik, panti pijat atau bar, yang hanya memerlukan tanda tangan beberapa orang tetangga. karena HO/ ijin tetangga untuk usaha, cuma butuh tanda tangan. Sedangkan HO pendirian Gereja harus ada dukungan masyarakat berupa tanda tangan yang disertai KTP dan IMB. Kan begitu bro? begitulah kira-kira.
Saya tau ijin mengijin usaha, karena pernah ngurus dan belum kelar sampek kini, dan masih macet di kantor bea cukai Tulungagung Jatim. Nama usahanya ‘lazufa tobacco’. Ijin mendirikan industry kecil SKT ini, ‘hanya’ butuh 6 tanda tangan tetangga. Tapi mbuh lah, saya ndak mikir lagi usaha yang itu, mekruh kata guru saya.(mumet mode : on)
Masalah toleransi beragama, ya harus dong mas Dewo. Orang Islam seperti saya ini sebenarnya bukan hanya beriman kepada Al Qur’an. Tapi juga percaya kepada Zabur, Taurot,dan Al Kitab. Kitab2 suci itu, kalo dalam Islam semua wahyu Tuhan (yang asli), lho piye arep ndak percoyo sama Al Kitab, trus piye mosok gak ada toleransi.
Ndak ada alasan umat Islam ndak toleran, kecuali kalau mereka di ganggu. trus ada yang marah, biasa. Cubit balas cubit, tonjok balas tonjok, gitu aja mungkin terjadi. Kata temen Salibis saya, ada ajaran Nasrani begini : kalau kamu di tampar pipi kirimu, maka berikan pipi kananmu. Karena itu untuk kasus Gereja, sabarlah mas Dewo. Dan ini canda ya, andai tanah calon Gereja yang batal berdiri itu, di waqafkan aja, gimana? (*senyum lho*)
Huhu… Apa ini oom?? Saya gak ngerti…
pusing aku liat blog mu mbel.. apalagi baca
@Ida Lazufa,
Maaf ya Mbak, lebih afdol membahas gereja-nya di thread sebelah saja. Kalau di sini kurang mengena topiknya. Maaf kalau di atas saya sempat membahas mengenai isyu gereja ini, tapi konteksnya adalah toleransi yang omong kosong.
Oh iya, ada baiknya Mbak tidak menggunakan istilah Salibis yang Anda gunakan secara sepihak & semena-mena. Tentu Anda tidak ingin saya panggil dengan istilah yang saya ciptakan sendiri kan? Karena saya bisa saja menciptakan istilah/panggilan untuk Anda juga loh! Jadi hati-hati membuat istilah/panggilan secara sepihak & semena-mena.
Salam.
Cukup menarik cara Mbelgedez merespon keriuhan ini, mengingat namanya yang Mbelgedez… Bagus, kata Pak Tino Sidin… Menunggu suapan berikutnya…masih balita sihhh…
@ mas Emanuel Setyo Dewo,
Betul sebutan di atas semena-mena ya? Kalau itu membuat sampean sakit hati, dengan segala kerendahan hati pula, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya (*saya cium tangan anda, andai sesama perempuan*).
Saya berharap, kita masih teman. Kira2 sebutan apa yang mas Dewo sukai, akan saya ikuti, silakan beri tahu di sini, agar teman-teman muslim lainnya mengikuti. Kenapa tidak? Sebagai orang Islam, kami wajib mengikuti peraturan Nabi, untuk tidak memanggil nama atau sebutan seseorang, yang tidak di sukai orang tersebut.
Dalam Islam ada hukum Qisas, artinya kalau saya telah menampar atau melakukan penganiayaan bentuk lain pada seseorang, maka orang tersebut boleh membalas sama persis, seperti yang telah saya lakukan terhadapnya, selama saya masih hidup di dunia. Karena kalau tidak, kelak setelah mati, Tuhan tetap akan menghukum. Jadi dalam kasus kita diatas, kalau memang saya disebut sebagai semena-mena. Maka mas Dewo boleh membalas saya, agar adil, qisas saja. Kalau mau di email balasannya, silakan minta pada bos Mbel email saya (khusus untuk mas Dewo sajah).
Sejujurnya saya penasaran, sebutan apa yang hendak sampean ciptakan. Atau langsung nulis di komentar, terserah penjenengan, yang penting adil.
Kita memang harus adil. Adil artinya meletakkan sesuatu pada tempatnya. Kalau tidak, berarti dholim atau zalim. Orang zalim contohnya raja Firaun, dia bertindak se wenang-wenang terhadap rakyatnya, bahkan menganggap dirinya Tuhan.
Trims untuk tawaran mbahas Gereja di blog sebelah, kan sudah ada pak Sujiwo Tedjo, lovepassword, dkk. saya masih enak di sini, blognya boss Mbelgedes, sudah menarik. Rasanya seperti di rumah pak Dhe atau pak Cilik saudara sendiri, gitu. Seandainya blog sebelah nampak bersahabat dengan Islam saja, saya tidak pingin nimbrung, apalagi nampak begitu benci, yang terjadi malah etrek-etrekan saling debat, ngombyoworo. Ahiranya di situ juga muncul link milik chodet atau siapa itu. Wah, dasar anak muda, he he.
Mas Dewo, sebenarnya sudah lama saya belajar Kristen Protestan dan Katolik. Bahkan dulu waktu sekolah, sama guru saya disuruh mbeli Injil. (dasar matre, saya ndak mbeli, tapi mintak ajah). Dapat Perjanjian Baru, kecil, dari cik Mei Mei teman kos, Injilnya dah di urek-urek, digambari segala.
Kurang Perjanjian Lama, yang buesar, saya cari gratis dari iklan di Koran JP, dapat. Lha Injil yang buesar dan bagus itu, tak pamerin ke teman sayah, lha kok malah dia mintak, mau dibaca katanya, byuh.. lha saya masih mau blajar jugak. Mungkin karena itu, sayah belum jugak pinter sampai kini. Tapi belajar, kan tak pernah mengenal batas usia, iya to mas Dewo?
@Mbak Ida Lazufa,
Ya, saya memang menyebutnya semena-mena karena Anda tidak memperoleh persetujuan dari saya (dan Kristiani lain) untuk menyebut kami sebagai “Salibis.” Anda tahu artinya “SALIB”? Kalau memang benar Anda pernah belajar Alkitab Kristiani, maka seharusnya Anda tahu artinya.
Oh iya, saya tidak akan membalas kok. Di Kristiani telah diajarkan bahwa jika ditampar pipi kananmu, maka berikanlah pipi kirimu. Bagi sebagian besar orang & agama lain, hukum ini nampaknya mustahil. Bahkan secara terang-terangan Anda menuliskan bahwa di Islam pun diajarkan qisas yang berarti hukum boleh membalas. Seperti balas dendam gitu ya?
Yesus Kristus telah mematahkan kuasa kejahatan balas dendam seperti ini. Beliau telah mengajarkan bahwa jika kamu ditampar, berikanlah juga pipi satunya. Dan juga mengajarkan bahwa kita harus mengampuni orang yg menganiaya kita sebanyak 70×7 kali, untuk setiap kesalahan yang dia buat kepada kita. Maksudnya adalah supaya kita benar-benar dapat mengampuni kesalahan orang tersebut.
Itulah implementasi dari ajaran kasih Allah. Dan saya telah memaafkan Anda.
Terus terang implementasinya sulit sekali, bahkan bagi umat Kristiani sendiri. Saya pun terus berjuang untuk mengamalkan ajaran kasih ini walau pun seringkali masih gagal juga. Tentu supaya kuasa kejahatan itu putus dan tidak berlanjut seperti lingkaran setan.
Oh iya, jika ingin menyebut orang Katolik dan semua denominasi Kristen, Anda bisa menyebutkan kami sebagai KRISTIANI. Itu saja cukup. Tidak usah membuat sebutan/panggilan yang aneh-aneh.
Salam.
@mas Emanuel Setio Dewo,
Sebelumnya saya ndak tahu arti sebutan (yang pean katakan semena-mena). sudah saya googling, dan waooow..banyak sekali berita nya, ruuuuar biasa. Trimakasih atas semuanya. Semoga mas Dewo termasuk Kristiani yang baik di Mata Tuhan, amiin.
Btw, kenapa Kristiani, ndak Kristen aja to Mas, ngetiknya kan lebih gampang. Boleh nawar nggak mas Dewo? Dulu, orang Islam juga disuruh sholat 50 kali sehari, tapi karena terlalu banyak dan memberatkan menurut Nabi, maka sholatpun dapat diskon 90% dari Tuhan, hingga tinggal 5 kali sehari. Enak to, kalo ada keringanan?
Lalu, di blog Mbelgedez yang nggantheng ini ; dengan nama Rabb yang menguasai seluruh alam, saya mengingatkan kepada saudaraku Muslim untuk mengikuti perintah Nabi ; panggilah orang lain, dengan sebutan yang mereka sukai. Dahulukan orang-orang dekat, pasangan, keluarga, saudara, pacar, teman, tetangga, dst. Panggillah mereka dengan sebutan yang menyenangkan.
Seperti Muhammad memanggil istrinya Aisyah dengan ; ‘ Yaa humaira’ (wahai pipi yang kemerahan). Sehingga yang dipanggilpun senang dan hidupun semakin harmonis. Lalu, tunggu keajaiban selanjutnya : servis lebih memuaskan, mungkin.
Repotnya kalau kebalik, dengan orang jauh, nyebutnya ajah; halo cantik, kamu sekseh deh atau yayang yayang seperti di rekaman telpon MK itu. Gentian panggil bojone dhewe, biasaaa aja, ndak romantiiis blass, capek deh. Saya pamit dulu mas Dewo, kok ada saya trus jadi sepi begini ya..
@ boss Mbel, gimana saran penjenengan? Sampurnya saya serahkan, seharian saya nunggu, belum koment ya boss Mbel. salam
@Mbak Ida Lazufa,
Anda ini cukup unik (cenderung aneh). Sudah diberi tahu, tapi masih nawar. Seandainya Anda tidak bersedia menyebutkan “Kristiani”, maka ya tidak usah menyebutkannya. Dan jika keberatan, tidak usahlah menggunakan panggilan yang dibuat secara sepihak dan semena-mena. Ini artinya Anda tidak punya empati terhadap orang lain.
Maaf ya, saya kok jadi tidak sreg ngobrol dengan Anda. Sebenarnya saya sudah tidak sreg ngobrol dengan Anda sejak pertama kali Anda memanggil kami sebagai “Salibis.” Coba dicek lagi, obrolan pertama Anda kepada saya tidak saya tanggapi kan? Barulah penyebutan “Salibis” ke-2 dari Anda baru saya tanggapi dengan teguran.
Salam.
@ Imanuel Setio Dewo
Lha saya ini sudah prihatin, mungkin cara keprihatinan kita yang beda saja. Kalo anda mungkin dengan menulis di blog, kalo saya ya kek yang saya bilang diatas tadi.
@Boss Dewo : untuk statement toleransi hanyalah omong kosong, maaf saya kurang setuju, karena masih ada sebagian kecil dari masyarakat kita yang menghargai keberadaannya. Contohnya ya Mbak Prasetyandaru, yang telah mengemukakan cara pandangnya diatas.
Mungkin memang sulit untuk membulatkan suara, meminta kepada semua warna negara Republik Indonesia untuk bisa menerapkan sikap toleransi antar umat beragama. Tapi yakinlah Mas, bahwa masih ada orang-orang yang memiliki rasa toleransi antar umat beragama.
Toleransi bukan lah hal sepihak kembali darimana sudut pandang diambil toh bisa juga kita “bilang mbok ya toleransi laaaa masa mo bangun gereja di pemukiman yang 90% muslim” piye jal ????….
@Prasetyandaru,
Ya okelah kalau begitu.
~~~
@Sapimoto,
Memang benar kok. Banyak orang (mayoritas) tidak memahami arti “toleransi” yang sebenarnya. Bagiku pribadi, “toleransi” yang digembar-gemborkan itu hanyalah lips service.
Walau pun demikian, memang ada sebagian orang yang benar-benar memahami arti kata “toleransi” itu. Sayang jumlahnya sangat-sangat sedikit.
Mau bukti? Tuh baca saja komennya Ferry yang berada tepat di bawah komentar Anda. Empati saja tidak punya, apalagi toleransi?
Salam.
kembali, mesti punya kemampuan lepas kacamata kuda yang bisa melihat “toleransi” secara objective…
@mas Emanuel Setio Dewo,
Tulisan pean untuk saya di atas, laopo cak Dewo, kok kata itu pean tulis lagi dan lagi? Katanya keberatan? pean bilang itu semena mena? Kan bisa mempengaruhi kerja otak saya juga nih. Andai saya meminta mas dewo, “ Tolong Mas Dewo, lupakan bentuk gajah. Pean sekarang jangan mikir gajah, jangan mikir belalainya yang ngoler, jangan mikir kaki gajah juga lho, awas kalo mikir gajah nginjek kadal sampek gepeng, anu gajah…”. cara melarang seperti itu mungkin, malah membuat mas Dewo mikirin gajah. Byuh, he he.. piye njajal.. (*senyum, inih canda boss*)
Islam memang beda. Tuhan mengharuskan, jika menyuruh sesuatu pada orang lain, maka dia sendiri juga harus melakukannya. Kalau tidak? Dosa dong, Kaburo maqtan ‘indallah an taquulu maa laa taf’aluun. Tuhan sangad marah, kamu mengatakan (menyuruh), sesuatu yang tidak kamu lakukan.
Mbaca ayat Qur’an itu, boss Mbel sakjane dah bener jugak. Beliau pipisnya jongkok, trus nyuruh orang lain begitu. Terlepas argumennya ngilmiah pa tidak. Cara nyampeiken boss Mbel dah bener. kan cuman masalah khilafiah, atau masalah kecil yang ndak prinsip to jane? Kalau itu di anggep sunnah Nabi, brarti pipis seperti itu, dikerjakan dapat pahala, tidak ya ndak dosa dong, wong cuman sunnah?
Jangankan diskusi dengan orang Kristiani seperti mas Dewo. Sesama muslim ajah bisa etrek-etrekan. Tapi tempat ngobrolin masalah khilafiah, paling cocok ya di blog inih. Mbelgedes artinya kan mbelgedes jugak, he he. Warning dari beliau ajah, ‘kalok komen jangan emosih’. Nah to? (Sambil njoged boleh nggak Boss Mbel, ngomennya?)
Masalah khilafiah lain, contohnya ; seni. Halal atau haram? Ada seni hadrah, rodat, tilawah Qur’an. Sebagian ulama bilang ; seni adalah boleh dan halal, yang lain bilang ; makruh dan haram. Katanya, seni adalah naluri yang alami, seperti kawin, tertawa, menangis, jadi harus disalurkan, jangan di bendung. Lihatlah pak Kyai, tau kenapa ujung kaki beliau bergerak-gerak? Oh, ternyata lagi mendengarkan music padang pasir, nah.
Selanjutnya, atas nama seni, misalnya generasi muda juga kreatif membuat seni foto telanjang, mengadakan lomba peragaan busana dengan tema; ” Implementasi Seni Nudis Dalam Kehidupan Sehari-hari”. Dan seni goyang musikpun tidak kalah, ada ngebor, ngecor, gergaji, atau apalagi. Begitulah.
Dari sini, antar ulama Islam saja masih berdebat. Terlepas dari halal atau haramnya seni, apa lantas kita menyalahkan Qur’an dan hadist, atau Islam? Yah enggak dong. Kayaknya, meski atas nama seni, gak ada agama apapun (kecuali agama sempalan) yang melegalkan nudistis.
Jadi boss Mbel ini hampir mirip ustadz juga, betul. Nyuruh orang gini gitu, beliau juga ngelakuin, iya to. namun saya juga sudah menyebut mas Dewo Kristiani, good, ya gak? Dan dengan suami saya yg seusia dengan mas Dewo, sayah juga sering manggil dengan sebutan ‘wong ngantheng’. Selain biar seneng, beliau memang ngganteng kok (*narsis mode*). Saking seringnya, sampai nyebut blog Mbelgedes ini sebagai blog nggantheng, harusnya kan blog bagus. Kalok ke toko, sama SPG saya sampek sering bilang; ‘ Mbak, tolong pilihkan yang ngganteng. He he..
Yang lain, mas dewo dah ngaku nggak sreg ngobrol dengan sayah, ya sudahlah. Waktu bangun tahajut kemarin ae, tak belain melek sampek subuh demi nanggepi mas Dewo, padahal kalau tidur lagi, kan masih 2 jam ituh. Kirain sayah dapat piala lho mas Dewo, pean kok malah gitu seeeh.. kalok gituh, sayah ndak usah koment-komenin pean, kecuali kalo emang kebelet ajah. Semoga sayah dapat pahala, amin.. (*santai lagi*)
Ya gitu deh, Boss Dewo.
Saya gak bisa terus membela diri bahwa masih ada yang mempunyai sikap toleransi, karena memang lebih banyak yang belum mau menerapkan toleransi. Paling tidak Boss Dewo tahu, bahwa masih ada yang memiliki sikap toleransi bukan hanya dalam tulisan tetapi dalam kehidupan yang real.
Silahkan dilanjut…
tar lagee subject ini masuk dalam daftar koncian negh…
mbahas MLM wae lah…..nek MLM kan isoh di maki maki
tuan rumahnya mana nih?
Mbel:
Opo Din…???
oh, ada toh ehehehe… beliin brem donk
Wah ternyata Mas Dewo ngartis juga, banyak fansnya ..
Nah, sekarang yang jadi bintangnya Mbah Mbel….:)))))
Mbel:
Oooo….
Gitu yah…?
Menjadi penonton memang lebih netral daripada menjadi pemain….hehehe….bisa tahu siapa yang lebih elegan…:))))
Mbel:
Jadi cuman mau nonton doang ??
Aku baru baca2 semuwa tulisan2 yg mbelgedez, jujur, dan menarik.
Kalo kata guruku waktu sekolah di bawah pohon bambu, agama itu adalah ilmu yang super ego. artinya di atas ego kita. namanya juga di atas ego, jadi tidak bisa didiskusikan dengan otak. Tinggal percoyo karo ora percoyo.
Bener kata mbahku, lakum dinukum. (titik)
Mbel:
Hahahahah
aduh…hari gini? blog kalo ga salah tempat “kita (sang empunya blog)” menulis…apapun yang ada di pikiran kita…betul kan? (kalo salah dikoreksi…jgn didebat), jadi di alam demokrasi seperti ini silahkan menulis sebebas-bebasnya…silahkan menulis sebebasnya tanpa batasan…diantara kata2 yang bebas akan saling bertubrukan dengan sendirinya dan itulah bagian dari kehidupan…tak ada kebenaran yang absolut….hanya pikiran2 yang saling berinteraksi, dengan ego dari masing empunya pikiran…silahkan ber-ego ria…bebas…merdeka…iya to…silahkan ente nulis itu ada yang komen ada yang marah2, hanya kalo saya boleh punya ego untuk mengutarakan keinginan saya, saya hanya ingin berkata : silahkan bebas berkata, silahkan bebas untuk saling bertabrakan, satu hal aja, belajarlah untuk menjadi lebih “sadar” dan “sadar” untuk satu tujuan….yang lebih mulia tentunya…daripada sekedar ego…