.
( Post ini ndak terlalu panjang. Ibarat kata, saya hanya menunjukkan arah jalan yang bisa jadi sesat, dan situh semua hendak menuju arah yang sesat. Masalahnya, dalem menuju arah sesat ituh situh semua bebas menentukan “jalan mana” yang hendak situh lalui… )
.
Wokeh. Kemaren Kamis 24 Juni 2010 di Twitter riuh dengan hestek #bubarkanFPI . Riuh seriuhnya. Saya memantau berjam-jam untuk melihat kearah mana keriuhan itu. Hingga pukul 20.00 saya masih memantau dan akhirnya turut menceburkan diri.
Saya termasuh dalem barisan yang setuju dengan #bubarkanFPI. Keputusan saya bulat, karena sudah mulai ada yang akan membenturkan masalah ini dengan Kristen – Islam, dengan tweet yang sudah mulai kasar. Apesnya, yang “ditembak” adalah selebritis yang kebetulan beragama Kristen.
Agar kembali pada fokus #bubarkanFPI, saya tweet : Saya jg beragama Islam dan saya mau #bubarkanFPI . Mereka adalah gerombolan preman berjubah !! Bajingan bersorban !! | cc: @deelestari @FauzanHakim.
Saya sadar sepenuhnya, hestek ituh sangat sensitip. Kaum jilbaber yang saya kenal secara personal dalem Twitter, kebanyakan tiarap. Mereka sebenernya ndak senang dengan FPI. Tapi mereka nampaknya ndak cukup nyali untuk bersuara. Ndak papa. Mereka memang kaum yang lemah.
Menurut sejarah yang pantas untuk diragukan, FPI didirikan oleh orang yang mengaku ulama, tapi ndak mau disebut sebagai ulama. Mungkin karena istilah ulama terlalu ngindon. terlalu berasa indonesia. Jadi dipandang kurang sip. Kurang angker.
Sedangkan kalo dipanggil Kyai, mereka nampaknya juga ndak sudi. Mungkin mereka pikir julukan Kyai terlalu udik, ndeso bin kampungan. Apalagi julukan Kyai ituh deket dengan Islam jadul macem NU. Sedangkan NU lebih sering mereka anggep kaum Khawarij, alias tulang Bid’ah.
Kalo mau disebut Buya, mereka nampaknya juga ndak mau. Mungkin juga berasa jadul dan mereka belom bisa sebijak Hamka dimasa lalu. Karena pimpinan ummat yang ini udah hidup hedon juga. Menikmati perkembangan teknologi dan hidup sangat nyaman diatas berkecukupan. Ndak mau lah mereka disebut Buya.
Woiyaaa… Mereka juga ndak mau dengan julukan Syech. Julukan Syech udah menjadi sinkretis. Mirip halnya Syaid di Malesia. Pimpinanan ummat inih juga tau diri rupanya, mereka ndak ada garis keturunan dari nabi muhammad SAW rupanya. Jadi merasa ndak pantes makek gelar Syaid ato semacemnya.
Maka merekapun mbikin istilah sendiri. Nyempal dari semua istilah yang telah ada, namun tetep terdengar eksotis, mambu-mambu arab, soale. Mereka menjulukidirinya Habib. Konon katanya, ndak beda ato so close lah dengan simbah. Jadi kalo situh semua suka manggil sayah Mbah/ simbah, sebenernya situh juga sedang manggil saya sebagai Habib. Habib Mbelgedez….
Lalu kenapa FPI menjadi oraganisasi yang menonjol “kekerasannya”…??? Tentu maksutnya keras disinih bukan keras penisnya karena bau-bau arab. Tapi keras kelakuannya. Jauh dari norma agama yang semestinya santun.
Menurut kabar gossip yang sangat diragukan kebenarannya, yang namanya Rizieq ituh orang Jakarta biasa. Awalnya ya sekedar keturunan arab gitu deeh… Kayak arab di Jawa yang biasa juwalan kaca mata dan mebel ituh. ( di Jogja namanya Akur Optic yaaa…??? ). Tapi Rizieq yang ini berguru Islam sampe ke Pakistan dan Arab.
Seperti lazimnya berguru Islam di Pakistan, mestinya sih bergelar Lc, Lecture kalo ndak salah. Seperti pada umumnya pula, satu – dua mahasiswa tentu bergairah pada suatu aliran pemikiran. Sama halnya anak sosiologi tertarik banget dengan Karl Marx, dan otaknya ter intercept dengan pemikiran-pemikiran Nietzhe.
Nah, si Rizieq ini juga terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran Nganuh ( maap, lupa namanya, Syusyah ngejanya ). Konon kabarnya, Rizieq ndak pinter-pinter amat sekolahnya. Goblok juga ndak. Biasa-biasa aja deh. Nah, sekolah di Pakistan ini belom kelar, ada yang mbisikin untuk jalan-jalan ke Arab. Ndak tau deh ngapain. Mungkin kerja sambilan sebagai Tour Leader jamaah haji. Maklum, kerja sebagai TL ini udah lazim banget.
Singkat kata, dia malah betah di Arab dan bayak ngobrol dengan pimpinan ummat setempat. Secara ndak langsung, terbukalah akses dengan boss-boss di Arab yang sanggup mbuang duid untuk tegaknya syiar. Apesnya, di sono dia cuman jalan-jalan tapi kabar yang terdengar dia lulus Ummul Qurro. Ndak jelas inih Ummul Qurro ituh pesantren, ato cuman semacem kursus singkat menuju sukses menembus perguruan tinggi macem Primagama dan Gama 81 dan Gama Exacta…
Sekembali ke Indonesia, mulai deh bekoar-bekoar. Mirip halnya lahirnya sebuah Blog, tentu perlu membuat tulisan yang segmented diantara ratusan Blog ngetop dalem ribuan Blog abal-abal. Perlu ada sesuatu yang menonjol sebagai pembeda. Tanpa ituh, dia ndak ada apa-apanya dibanding dengan boss-boss turunan arab laennya yang lebih dulu establish di Indonesia.
Kalo sekedar juwalan sekte salafy, semua juga udah juwalan sekte ituh. Senior-seniornya udah lebih duluan ngusung sekte impor arab ituh. Maka, meskipun sama-sama jualan sekte salafy, harus ada “pembeda”. Nampaknya dia sadar betul, diferensiasi dalem sebuah produk ituh sangat penting. Maka lahirlah yang namanya FPI.
Pertanyaannya, kenapa FPI ???
Konon kabarnya, konon lho yaaa…. Rizieq tuh ndak sabar dengan gelaran pengajian melulu. Menggelar pengajian yang cuman bisa bekoar inih bid’ah – ituh bid’ah, inih harom – ituh harom udah terlalu umum. Semua senior-seniornya juga bekoar gituh. Basbang. Semua yang ditereakkan cuman nguap ditelan angin. Cuman ada di mulut doang ndak ada implementasinya.
Sebagai langkah konkrit, yang namanya bulan puasa ya mesti bener-bener nahan lapar perut, mata dan napsu. Maka ndak boleh ada warung makan tetep buka siang-siang. Mbikin air liur keluar…. dan terasa makin lapaar… Jadi warung-warung ituh kudu ditutup.
Ealah… Ndilalahnya kebetulan yang punya warung ngelawan. Wong ituh sumber penghidupannya. Berhubung ngelawan, ya dirusak aja sekalian dengan pentungan dan batu. Maka warung ituh akan tutup selamanya, ndak cuman selama bulan puasa. Bangkrut soale…
Perlu situh ketahui, di Indonesia inih sekte salafy terpecah belah. Kalo ndak salah ada 5 ato 7. Hebatnya, semunya mengaku sebagai salafy yang aseli. Yang laennya khawarij alias palesu ngaku-ngaku sebagai salafy.
Dulu dekade 90an mereka asik saling serang menyerang. Seperti Ja’far Thalib yang mbikin Laskar Jihad dan sering menyerang salafy yang laen.Namun setelah para ahli syurga ituh duduk bersama, mereka membahas perlunya saling berbagi roti. Mirip-mirip era mafia Italy di Amerika itulah.
Intinya, jangan saling menjelekkan dan berebut pengikut. Semua pasti kebagian. Ada rejekinya masing-masing. Meminjem istilah tukang debus, sesama sodara seperguruan jangan saling mengganggu. Istilah sopir bis Jakarta, sesama bis kota dilarang saling mendahului…
Maka sektenya rizieq mulai mendapat pengikut yang sepemahaman dengan isi kepalanya. Sebab ndak mungkin orang waras kayak saya dan situh akan ikut pengajiannya. Naek truk ato motor tanpa helm ( kepalanya pake ubel-ubel sorban soale ) mbawa pentungan nglanggar lalu lintas pecicilan di jalan. Betul begituh ??
Lantas, kenapa pulisi diem aja ndak menertibkan mereka ato bahkan membubarkan pereka…???
Jawabnya mudah. Karena FPI bisa menjadi “Invisible Hand” mereka dalem menggerakkan sesuatu. Apa situh masih inget saat SatPol PP mati di rajam manusia setan di Tanjung Priuk karena rebutan tanah ??? Ndak laen ndak bukan, karena setan berujud manusia ituh sebagian besar adalah FPI.
Itulah sebabnya pulisi mundur meninggalkan arena perang, sebab ada sodara jauh mereka yang kesurupan haus darah saling bantai. Pulisinya asik lenggang kangkung, dan sekarang kita semua udah lupa dengan tragedi memilukan nan memalukan tersebut. Para pimpinan ummat yang ngakunya habib ituh, bersimbah darah isi dompetnya….
Lihatlah komentar salah seorang Pamen AD yang saya kontak lewat YM! :

.
Nyata terlihat, FPI memang bisa dimanfaatkan sebagai kepanjangan tangan pulisi. Tangan mereka akan tetep bersih. Itulah sebabnya saat anggota DPR Rieke Pitaloka diusir dari diskusi di sebuah cafe di Banyuwangi, pulisi ndak bertindak apa-apa. Alesannya, kegiatan diskusi ituh ilegal karena ndak ada ijinnya. Astaga !!!
Sedangkan seorang pensiunan jendral bintang empat memilih menjawab diplomatis:

*maap, saya hapus avatarnya, demi menjaga Ukhuwah…
Kalo kondisinya seperti inih, udah saatnya kita semua melawan FPI dengan membuat gerakan. Misalnya membuat laporan kepada polisi secara resmi. Kita bisa minta pengacara yang mau kerja suka rela.
Kita bisa minta bantuan sutradara yang jengah karena filmnya diturunin dari bioskop oleh FPI, untuk mbikinin film pendek gerakan pembubaran FPI. Kita bisa minta bantuan juragan besar berduit untuk ngongkosi agar film pendek tersebut bisa ditayangkan di TV nasional.
Kita bisa minta rekan-rekan AJI untuk membuat publikasi lewat media masing-masing. Tanpa bersatu padu, bahu membahu, dan rela kerja gratisan, rasanya sulit kalo sekedar minta bubarin begitu aja sama pemerentah.
Harus ada tindakan riil….
>>Jumatan nanti, kita doakan semoga pemerentah ikhlas mbubarin FPI