.
Pada suatu masa, di planet bumi ada satu bangsa yang sangat kuat, makmur, sekaligus kurang ajar. Sebut saja, Amiriki. Bangsa inih sangat maju dalem segala hal. Menurut sejarahnya bangsa inih merupakan campuran dari segala unsur berbagai ras yang mendambakan kebebasan “yang baru”, yang ndak di dapet di negri asalnya masing-masing. Berangkat dengan semangat kebebasan, maka merekapun “melepaskan” masa lalu mereka, dan membentuk budaya baru, budaya bangsa Amiriki.
Semangant kebebasan, penjelajahan, dan pemberdayaan sumber alam inilah yg merupakan dasar berdirinya bangsa baru inih, meskipun dengan cara menyingkirkan penduduk aseli - they called Indian- daerah yang didatenginya. Pertumpahan darah jelas terjadi antara pendatang dan penduduk aseli. Sebagai pendatang yang dateng dengan membawa semangat penjelajahan yang luar biasa, maka penduduk aseli mereka singkirkan karena ndak sesuai dengan semangat mereka. Itu awalnya, dan sekarang bangsa Amiriki inih menjadi bangsa yang sangat menentukan peradaban manusia.
Di belahan laen dunia, ada satu bangsa yang penduduknya sangat padat, terdiri dari berbagai macem suku, agama, juga ras. Sebut saja bangsa Endonesa. Endonesa inih berada di belahan dunia yang sangat subur alamnya, dan diberbagai tempat juga menghasilkan sumber alam yang lumayan dahsyat dan dibutuhkan bangsa laen.
Inih dobosan soal bangsa Endonesa. Bangsa Endonesa saat inih salah satu bangsa yang ajaib. Di hampir semua lini kehidupan memiliki sisi hitam- putih, positip- negatip, jujur -maling, kaya -miskin, beragama- atheis. Semua bersifat berpasangan, tetapi saling bertentangan. Di negri nan ajaib bernama Endonesa inih ada manusia yang sangat miskin hingga kesulitan makan, tetapi ada juga yang sanggup membuang 10.ooo.ooo Rapiah per hari ato setara 1.000 Dollar di Amiriki. Ada yang mati karena kelaparan, tapi ada juga yang mati karena kekenyangan. Luar biasa….
Karena “stereotip” nya yang seperti ituh, maka ndak heran kalo penduduknya ada yang pinter (kayak anggota dewan sayah), tapi banyak juga yang masih bodoh. Ada yang pake jas Armani ( kayak anggota dewan sayah ), tapi banyak juga yang cuman bisa pake kolor. Bangsa Endonesa menjadi Melting Pot bagi seluruh kepentingan dan pengaruh dunia yang ada saat inih.
Secara kebetulan penduduk Endonesa inih gemar beragama. Secara kebetulan pula agama Islam ( katanya ) paling banyak di demenin bangsa Endonesa. Namun agama dengan merek apa aja pasti laku dijual di Endonesa. Saking demennya beragama, sampe-sampe Tuhan yang cuman satu ituh buat rebutan. Masing-masing agama merasa paling berhak meng kalim, bahwa Tuhan ituh “miliknya”. Persis banget dengan apa yang di katakan Dan Brown dalem novel terbarunya, The Lost Symbol…
Karena keanekaragaman jenis manusia penghuninya, maka Endonesa pun sangat menarik perhatian bangsa laen, khususnya Amiriki. Berpuluh tahun bangsa Amiriki ndak sukak dengan orang beragama Islam, kecuali kalo banyak duitnya. Kalo orang Islam ituh ndak berduit, maka dengan segera Amiriki akan mencapnya sebagai kaum teroris. Kalo orang Islam ituh berduit tapi susah diatur, maka akan diancurin kayak Saddam di Irak sono. Kalo orang Islam ith berduit dan bisa diatur kayak anjing pudel yang manis seperti raja Saudi ituh, maka akan di jadikan teman baeknya.
Gimana dengan Endonesa ?
Khusus Endonesa, Amiriki punya resep ciamik yang udah terbukti manjur di Afganistan. Kondisi Endonesa saat inih rada-rada mirip dengan Afganistan sebelom di gempur Uni Sovyet pada dekade 80 an. Di Afganistan dulu banyak juga kelas menengah atas yang berbusana klimis dalem pesta dugem sembari menenggak khamer. Sementara ituh di sudut laen ada juga yang bergamis di pengajian sembari mulutnya ndremimil mengucap mantra padang pasir. Uni Sovyet memang gagal di Afganistan. Tapi jangan salah, para Mujahid ituh menang perang karena Stinger buatan Amiriki.
Kemudian masuklah Amiriki dan membenturkan dua kelas yang berbeda. Maka tumbanglah rezim yang ndak disukai dan berganti dengan pemerentahan ala Mujahid. Meskipun merek nya Mujahid, ndak selalu sikap mereka se agamis nama dan mereknya. Mujahid Thalib Afganistan inih terkenal homoseks. Khususnya yang berasal dari suku Pashtun. Suku yang menguasai Afganistan. Di Afganistan, kalo situh ketauan nge seks sama cewek, udah pasti si cewek mati di rajam di alun-alun. Tapi kalo nge seks sama pantat cowok, bolehlah. Untuk ituh para cowok inih di dandanin ala cewek…. http://bit.ly/19XVBg http://bit.ly/cf3rKr Afganistan pun berhasil dikuasai untuk sumber daya Opiumnya.
Kembali soal Endonesa, Amiriki pernah mbikin morat marit perekonomiannya. Namun ndak isa bener-bener ancur seperti yang telah mereka lakukan kepada negri-negri di semenanjung Balkan. Di semenanjung Balkan, Amiriki sukses menghancurkan perekonomiannya sehingga negri ituh pecah menjadi negara kecil-kecil, yang kedepannya ndak memiliki kekuatan apapun, selaen menghidupi dirinya sendiri. Amiriki ndak sukses ngancurin Endonesa secara ekonomi, karena mungkin Amiriki lupa, bahwa tanah Endonesa sangat subur. Makan ketela dan jagung pun, bolehlah. Kekerabatannya pun erat, sehingga saat ada famili yang kesusahan, maka famili yang laen turut mbantu.
Kini, strategi Amiriki laen lagi. Mereka lebih masuk ke dalem sistim. Dengan kepanjangan tangannya yang ndak keliatan, mereka bisa menyusup ke dalem sistim pemerentahan Endonesa. Nampaknya mereka udah ndak sabar, ato bisa jadi saat inih merupakan momen yang tepat untuk memulainya.
Awalnya terhembus kabar tentang RUU nikah siri. Lewat kaki tangannya, dibuatlah aturan bahwa nikah siri ndak boleh. Bahkan dengan menakut-nakuti pelanggarnya bakal di penjara 3 bulan ato denda 5 sampe 12 juta Rapiah. Semua perkawinan kudu di daptarin. Yang Islam tentu saja ke KUA. Sebenernya ituh niatan baek. Tapi nikah siri adalah syah menurut agama Islam.
Kepentingannya adalah memudahkan melacak orang-orang Islam secara lebih terstruktur. Di era on line data seperti saat inih, data yang valid sangat dibutuhkan. Sekaligus, melunturkan nilai-nilai Islam di dalemnya. Hukum Islam dikalahkan dengan hukum negara. Endonesa memang bukan negara berdasar Islam. Tetapi menafikan apa yang sudah diatur Islam untuk pemeluknya dengan aturan yang dibuat oleh negara, tentu ndak isa ditrima akal.
Kalo niatannya untuk administrasi yang baek, urusan ke KUA ya dimudahkan lah. Ndak perlu lagi dipungut biaya alias gratis. Simpel kan…??? Ndak usah diancem-ancem untuk dipenjarakan segala.
Di sudut laen Endonesa, yaitu Batam, ada ide yang cukup menggelitik. Ide tersebut adalah adanya wacana untuk memajakin para pelacur sebesar 10%. Tentu niatannya untuk mendapatkan PAD Batam. Idenya bagus. Tapi kondisinya ndak pas. Ndak jelas mekanisme nya gimana. Kalo niatan mungutin pajak 10% pada para pelacur, berarti mengakui pelacuran, wisata sex, wisata lendir, ato apapun namanya, sebagai sebuah industri.
Di Belanda ( katanya seeh..) Pelacuran dihitung sebagai jenis usaha. Usaha persewaan Vagina. Sebagaimana sebuah usaha (jasa), mereka juga dituntut profesional. Aturannya pun sangat jelas. Lokasi ( Red Light District), usia atopun kesehatannya harus terpantau. Setelah semuanya beres, barulah pemerentah Belanda menetapkan besaran pajaknya. Lha di Endonesa pelacurnya aja kemana-mana, statusnya ndak jelas, tapi mau dipungut pajak. Hopo Tumoooon…???
Kalo pelacur beneran mau di pajakin, ituh berarti Endonesa udah bersiap mengakui bahwa lonte adalah profesional pelaku persewaan kelamin. Semua hak dan kewajibannya di akui oleh negara. Mereka mbayar pajak, bukan ??? Apa Endonesa udah melangkah sejauh ituh ???
Dalem waktu yang nyaris bersamaan, memidanakan orang yang nikah siri, tapi melegalkan pelacuran. Apakah inih sebuah konspirasi untuk melemahkan Endonesa ???
>> Setelah Jumatan nanti situh pikir deh. Akhir pekan inih mau nge lonte apa nikah siri Ki Sanak…???